Knowing A qualitative research …

Qualitative_Research [click here to download]

Leadership scholars seeking to answer questions about culture and meaning have found
Imageexperimental and quantitative methods to be  insufficient on their own in explaining the phenomenon they wish to study. As a result, qualitative research has gained momentum as a mode of inquiry. This  trend has roots in the development of the New Leadership
School, (Conger, 1999; Hunt, 1999), on the recent emergence of an approach to leadership that views it as a relational phenomenon (Fletcher, 2002), and on the increased recognition of the strengths of qualitative inquiry generally. Shank (2002) defines qualitative research as “a form of systematic empirical inquiry into meaning” (p. 5).  By systematic he means “planned, ordered and public”, following rules agreed upon by members of the qualitative research community. By empirical, he means
that this type of inquiry is grounded in the world of experience. Inquiry into meaning says researchers try to understand how others make sense of their experience. Denzin and Lincoln (2000) claim that qualitative research involves an  interpretive and naturalistic approach: “This means that qualitative researchers study things in their natural settings, attempting to make sense of, or to interpret, phenomena in terms of the meanings people bring to them” (p. 3)….

Qualitative research module !

Research Qualitative [click here to download]

This module introduces the fundamental elements of a qualitative approach to research, to help you understand and become proficient in the qualitative methods discussed in subse-quent modules. We recommend that you consult the suggested readings at the end of the module for more in-depth treatment of the foundations of qualitative research.
This module covers the following topics:
• Introduction to Qualitative Research
• Comparing Qualitative and Quantitative Research
• Sampling in Qualitative Research
• Recruitment in Qualitative Research
• Ethical Guidelines in Qualitative Research
• Suggested Readings
Introduction to Qualitative Research
What is qualitative research?
Qualitative research is a type of scientific research. In general terms, scientific research consists
of an investigation that:
• seeks answers to a question
• systematically uses a predefined set of procedures to answer the question
• collects evidence
• produces findings that were not determined in advance
• produces findings that are applicable beyond the immediate boundaries of the study

Qualitative research shares these characteristics. Additionally, it seeks to understand a given research problem or topic from the perspectives of the local population it involves. Qualitative research is especially effective in obtaining culturally specific information about the values, opinions, behaviors, and social contexts of particular populations……………

Question around Quantitative and Qualitative research

Image

Banyak sekali sebagian kita yang mengaku-ngaku dari lembaga riset padahal faktanya metode yang dijelaskan aspal (asli tapi palsu) bahkan ada seorang teman saya yg mengaku dari lembaga penelitian tapi dia sendiri gak tau bagaimana prosedur  penelitian yang dia kerjakan di lembaganya sendiri. akhirnya data-data dilapangan yang di ambil malah jauh dari harapan dan terkesan dibuat-buat.

Kawan-kawan, semua metode peneltian ini sangat penting mengingat ini akan menjadi alat evaluasi dari kebijakan yang akan diambli baik oleh pemerintah, lembaga ataupun sekolah, untuk itu diperlukan langkah2 yang filosofis dan teknis dilapangan. Berikut ini ada beberapa seputar pertanyaan dalam kaitannya metodologi penelitian yang mungkin bisa menjadi tambahan bagi kita semua. Silakan menikmati…

1. Apa yang dimaksud dengan metode ilmiah dan bagaimana penerapannya dalam penelitian?

Metode ilmiah adalah suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum akan mudah terjawab

2. Bagaimana langkah di dalam sistematika penelitian?

1. Identifikasi, Pemilihan dan Perumusan Masalah Penelitian

2. Penelaahan Kepustakaan

3. Perumusan Hipotesis

4. Identifikasi, Klasifikasi dan Pendefinisian Variabel

5. Pemilihan atau Pengembangan Alat Pengambil Data

6. Penyusunan rancangan penelitian

7. Penentuan sampel

8. Pengumpulan data

9. Pengolahan dan analisis data

10. Interpretasi hasil analisis

11. Penyusunan laporan

3. Jelaskan paradigma kuantitatif dan kualitatif berdasarkan atas pendekatan ontologis, Epistemologis, axiologis, retorik, dan metodologis!

Istilah kuantitatif dan kualitatif menurut Borg and Gall (1989) dalam Sugiyono (2009) adalah sebagai berikut :

Many labels have been used to distinguish between tradisional research methods and these new methods : positivistic versus postpositivistic reseach; scientivic versus artistic research; confirmatory versus discovery-oriented research; quantitative versus interpretative research; quantitative versus qualitative research. The quantitative- qualitative distinction seem most widely used. Both quantitative researchers and qualitative researchers go about inquiri in different ways.

Metode kuantitatif dan kualitatif sering dipasangkan dengan nama metode tradisional dan metode baru; metode positivistik dan postposivistik; metode scientific dan metode artistik; metode konfirmasi dan temuan; serta kuantitatif dan interpretatif

Ontologis: Paradigma penelitian kuantitatif dan kualitatif :

a.  Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan intrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

b.   Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi obyek alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Berdasarkan pengetian tersebut maka secara ontologis hal-hal yang dikaji dalam penelitian kuantitatif dan kualitatif berbeda. Perbedaan itu adalah sebagai berikut :

KUANTITATIF

KUALITATIF

A. Jenis penelitian terapan

B. Hasil penelitian untuk mengukur :

1. Hubungan simetris (korelasional)

2. Hubungan Kausal (ex post facto, eksperimen)

A.  Jenis penelitian murni

B. Hasil penelitian untuk :

1. Menemukan budaya (etnografi)

2. Menemukan teori baru (Grounded research)

3. Pengembangan i

PARADIGMA PENELITIAN KUNTITATIF DAN KUALITATIF

KUANTITATIF

KUALITATIF

1. Positivistik (fenomena objektif)

2. Deduktif hipotesis

3. Partilaristik (terpisah)

4. Objektif

5. Berorientasi kepada hasil

6. Menggunkan pandangan ilmu

pengetahuan penelitian.

1. Fenomenologik/postpositivistik

2. Induktif hipotesis

3. Holistik (menyeluruh)

4. Subyektif (peneliti sebagai instrumen)

5. Berorientasi kepada proses

6. Menggunakan pandangan ilmu sosial/

Antropological

Sugiyono (2009) mengemukakan bahwa aksioma penelitian kuantitaif dan kualitatif meliputi aksioma tentang, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variabel, kemungkinan generalisasi, dan peranan nilai, seperti ditunjukkan dalam tabel berikut :

PERBEDAAN AKSIOMA PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Aksioma Dasar

Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kualitatif

Sifat realitas

Tunggal, dapat diklasifikasi-kan, konkrit, teramati, terukur

Ganda, holistik, dinamis, hasil kontruksi dan pemahaman

Hubungan peneliti dengan yang diteliti

Peneliti bersifat independen, supaya terbangun obyektivitas

Peneliti interaktif dengan sumber data supaya memperoleh makna

(human instrumens, participant observation, in depth interview)

Hubungan Variabel

Sebab-akibat (kausal)

       
       
     
     

X                       Y

Timbal balik/interaktif

       
       

X                          Y

Z

Kemungkinan generalisasi

Cenderung membuat generalisasi

Transferability (hanya mungkin dalam ikatan konteks dan waktu)

Peranan nilai

Cenderung bebas nilai

Terikat nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data

Metodologis: Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif

Karakteristik Penelitian Kuantitatif dan Penelitian Kualitatif adalah sebagai berikut.

Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kualitatif

A. Desain

a. Spesifik, jelas, rinci

b. Ditentukan secara mantap sejak awal

c. Menjadi pegangan langkah demi    langkah

A. Desain

a. Umum

b. Fleksibel

c. Berkembang dan muncul dalam proses penelitian

B. Tujuan

a. Menunjukkan hubungan antarvariabel

b. Menguji teori

Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif

B. Tujuan

a. Menentukan pola hubungan yang bersifat interaktif

b. Menemukan teori

c. Menggambarkan realitas yang kompleks

d. Memperoleh pemahaman makna

C. Teknik Pengumpulan Data

a. Kuesioner

b. Observasi dan wawancara terstuktur

C. Tenik Pengumpulan Data

a. Participant observation

b. In dept interview

c. Dokumentasi

d. Trianggulasi (gabungan)

D. Instrumen Penelitian

a. Test, angket, wawancara terstruktur

b. Instrumen yang telah terstandar

D. Instrumen Penelitian

a. Peneliti sebagai Instrumen (human instrumen)

b. Buku catatan, tape recorder, camera, handycam dan lain-lain

E. Data

a. Kuantitatif

b.  Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen

E. Data

a. Deskriptif kualitatif

b. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden, dokumen dan lain-lain

F. Sampel

a. Besar (minimal 30)

b. Representatif

c. sedapat mungkin random

d. Ditentukan sejak awal

F. Sampel

a. Kecil

b. Tidak representatif

c. Purposive, Snowbaal

d. Berkembang selama proses penelitian

G. Analisis

a. Setelah selesai pengumpulan data

b. Deduktif

c. Menggunakan statistik untuk menguji hipotesis

G. Analisis

a. Terus menerus sejak awal hingga akhir penelitian

b. Induktif

c. Mencari pola, model, thema, teori

H. Hubungan dengan Responden

a. Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif

b. Kedudukan peneliti lebih tinggi dari responden

c. Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan

H. Hubungan dengan Responden

a. Empati, akrap supaya memperoleh pemahaman yang mendalam

b. Kedudukan sama bahkan sebagai guru atau konsultan

c. Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat ditemukan hipotesis atau teori

I. Usulan Desain

a. Luas dan rinci

b. Literatur yang berhubungan dengan masalah dan variabel yang diteliti

c. Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya.

d. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas

e. Hipotesis dirumuskan dengan jelas

f. Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan

I. Usulan Desain

a. Singkat, umum bersifat sementara

b. Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama.

c. Prosedur bersifat umum, seperti akan merencanakan tour/piknik

d. Masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan

e. Tidak dirumuskan hipotesis, karena justru akan menemukan hipotesis

f. Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan

J. Kapan penelitian dianggap selesai?

Setelah semua kegitan yang direnca-nakan dapat diselesaikan

J. Kapan penelitian dianggap selesai?

Setelah tidak ada data yang dianggap baru/jenuh

K. Kepercayaan terhadap hasil Penelitian

Pengujian validitas dan realiabilitas instrumen

K. Kepercayaan terhadap hasil Penelitian

Pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian

Epistemologis : Proses penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

a. Proses Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif pada prinsipnya adalah untuk menjawab masalah. Penelitian ini bertolak dari studi pendahuluan terhadap obyek yang diteliti (preliminary study) untuk mendapatkan betul-betul masalah. Masalah harus digali melalui studi pendahuluan, melalui fakta-fakta empiris. Supaya peneliti dapat menggali masalah dengan baik, maka peneliti harus menguasai teori melalui membaca referensi. Selanjutnya masalah diidentifikasi dan dirumuskan secara spesifik. Rumusan masalah pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimat tanya.

Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis), maka peneliti dapat membaca  referensi teoritis yang relevan dengan masalah dan berfikir. Penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga dapat digunakan  sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah (hipotesis).

Untuk menguji hipotesis tersebut peneliti  dapat memilih metode/strategi/pendekatan/ desain penelitian yang sesuai. Pertimbangan ideal untuk memilih metode itu adalah tingkat ketelitian data yang diharapkan dan konsisten yang dikehendaki. Sedangkan pertimbangan praktis adalah tersedianya dana, waktu, dan kemudahan yang lain. Misalnya metode survey, ex post facto, eksperimen, evaluasi dan lain-lain.

Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat berbentuk tes, angket/kuesioner, wawancara terstruktur atau observasi. Instrumen ini harus diuji dahulu validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan.

Pengumpulan data dilakukan pada obyek tertentu baik berbentuk populasi maupun sampel. Sampel harus representatif untuk menyimpulkan hasil penelitian dengan baik. Setelah data terkumpul, selanjutnya melakukan analisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis ini apakah hipotesis ditolak atau diterima atau apakah penemuan itu sesuai dengan hipotesis yang diajukan atau tidak.

Kesimpulan adalah langkah terakhir dari tahap penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah. Proses penelitian kuantitatif tampak jelas dari langkah-langkah merumuskan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat kesimpulan dan saran. Sedangkan penggunaan konsep dan teori yang relevan serta pengkajian terhadap hasil-hasil penelitian yang mendahului guna untuk menyusun hipotesis  merupakan aspek logika (logiko-hypothetico). Pemilihan metode penelitian, menyusun instrumen, mengumpulkan data dan analisisnya adalah aspek metodologi.

b. Proses Penelitian Kualitatif

Tahap pertama, peneliti kualitatif yaitu memasuki obyek/lapangan. Pada waktu memasuki obyek, peneliti tentu merasa asing terhadap obyek tersebut. Tahap ini disebut tahap orientasi atau deskripsi, dengan grant tour question. Peneliti mulai mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan ditanyakan.

Tahap kedua, yaitu tahap reduksi/fokus. Tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang diperoleh pada tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu. Peneliti mulai menyortir data dengan cara memilih data yang menarik, penting, berguna, dan baru. Data-data tersebut dikelompokkan menjadi berbagai kategori yang ditetapkan sebagai fokus penelitian.

Tahap ketiga, yaitu tahap selection. Peneliti menguraikan fokus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci. Peneliti juga melakukan analisis yang mendalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan thema dengan cara mengkonstruksikan data menjadi suatu bangunan pengetahuan, hipotesis atau ilmu baru.

Tahap keempat, peneliti harus mampu menghasilkan informasi-informasi yang bermakna, bahkan hipotesis atau ilmu baru yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia. Proses memperoleh data atau informasi setiap tahapan (deskripsi, reduksi, seleksi) tersebut dilakukan secara sirkuler, berulang-ulang dengan  berbagai cara dan dari berbagai sumber. Setelah peneliti memasuki obyek peneltian atau sering disebut situasi sosial ( terdiri atas tempat, aktor/pelaku/orang-orang, dan aktivitas) peneliti berfikir apa yang akan ditanyakan (1). Setelah menemukan pertanyaan selanjutnya peneliti bertanya kepada orang-orang yang dijumpai di tempat tersebut (2). Jawaban yang diperoleh dianalisis apakah jawabannya betul atau tidak (3). Jika jawaban atas pertanyaan dirasa betul, maka dibuatkan kesimpulan (4).

Tahap kelima, yaitu peneliti mencandra kembali kesimpulan yang dibuat. Apakah kesimpulan tersebut kredibel atau tidak. Untuk memastikan kesimpulan tersebut, peneliti masuk lapangan lagi dan mengulang pertanyaan dengan cara dan sumber yang berbeda, tetapi dengan tujuan sama. Kalau kesimpulan telah diyakini memiliki kredibelitas yang tinggi, maka pengumpulan data dinyatakan selesai.

Axiologis : Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

a. Penelitian Kuantitatif

Penelitian kuantitatif digunakan :

1) Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Tampak adanya penyimpangan antara yang seharusnya dengan yang terjadi, antara aturan dan pelaksanaan, antara teori dan praktik. Dalam proposal masalah ini  harus ditunjukkan dengan data baik data hasil penelitian sendiri atau dokumentasi.

2) Bila peneliti inginmendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi. Jika populasi terlalu luas penelitian dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut.

3) Bila ingin mengetahui pengaruh perlakukan/treatment tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini peneliti dapat menggunakan metode eksperimen.

4) Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Hipotesis ini dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif.

5) Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat, berdasarkan fenomena yang empiris dan dapat dikukur.

6) Bila peneliti ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan tentang validitas pengetahuan, teori, dan produk tertentu.

b. Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Penelititian kualitatif kapan digunakan, dikemukakan sebagai berikut.

1) Bila masalah penelitian belum jelas, masih kabur, bahkan masih gelap. Kondisi semacam ini cocok dilakukan dengan penelitian kualitatif, karena peneliti kualitatif akan langsung ke obyek melakukan penjelajahan dengan grand tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan dengan jelas. Peneliti akan melakukan ekplorasi terhadap suatu obyek.

2) Untuk memahami makna dibalik data yang tampak. Gejala sosial sering tidak bisa difahami berdasarkan ucapan atau tindakan seseorang. Setiap ucapan dan tindakan seseorang sering mempunyai makna tertentu. Data yang cocok untuk mencari makna dari setiap perbuatan tersebut hanya cocok diteliti dengan metode kualitatif, dengan teknik wawancara yang mendalam dan obserbasi berperan serta, dan dokumentasi.

3) Untuk memahami interaksi sosial. Interaksi sosial yang kompleks hanya dapat diurai dengan penelitian kualitatif.

4) Untuk memahami perasaan orang. Perasaan orang sulit dimengerti kalau tidak diteliti dengan metode kualitatif.

5) Untuk mengembangkan teori. Penelitian kualitatif paling tepat digunakan untuk mengembangkan teori yang dibangun melalui data yang diperoleh di lapangan (grounded research).

6) Untuk memastikan kebenaran data. Data sosial sering sulit dipastikan kebenarannya. Penelitian kulitatif dengan teknik pengumpulan data secara trianggulasi/gabungan, maka kepastian data akan lebih terjamin.

7) Untuk meneliti sejarah perkembangan. Sejarah perkembangan kehidupan seorang tokoh masyarakat akan dapat dilacak dengan penelitian kualitatif. Dengan menggunakan data dokumentasi dan wawancara mendalam kepada pelaku yang dipandang tahu, maka dapat ditemukan sejarah perkembangan kehidupan seseorang.

4. Apakah yang dimaksud dengan masalah penelitian ? Apakah ada perbedaan antara masalah penelitian dan masalah yang bukan penelitian ?

Masalah penelitian adalah “masalah yang pemecahannya memerlukan penelitian”

Syarat2 masalah penelitian:

  1. Fisibel dari segi dana, waktu, alat, keahlian peneliti, dan subjek penelitian yg dibutuhkan
  2. Interesting bagi penelitinya
  3. Novel, yaitu menguatkan, membantah, melengkapi dgn penelitian sebelumnya
  4. Etik penelitian tidak dilanggar
  5. Relevan bagi perkembangan ilmu saat itu

Bedanya jika masalah yang bukan penelitian tidak memerlukan kajian mendalam dan dapat diselesaikan dalam waktu relative singkat

5. Jelaskan sumber-sumber yang dapat kita gunakan untuk memperoleh masalah penelitian dan berikan contoh satu rumusan masalah penelitian kuantitatif dan satu rumusan penelitian kualitatif!

Menurut Suharsimi Arikunto (1996:25), sumber masalah dapat diperoleh dari berbagai macam arah:

  1. kehidupan sehari-hari,
  2. dari membaca buku,
  3. dapat diberi dari orang lain.  
  4. Akan tetapi  menurutnya yang paling baik adalah datang dari dirinya sendiri sehingga ada dorongan kebutuhan  untuk memperoleh jawaban.

Sugiyono (1994:35) menambahkan bahwa sumber masalah bisa diambil dari

1) adanya penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan;

2) penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengan kenyataan;

3) dari pengaduan; dan

4) dari kondisi yang muncul karena  adanya  kompetisi.

(Suryabrata,(1983:61) Masalah penelitian bisa juga diambil dari sumber lain yaitu:

1) bacaan terutama bacaan yang berisi laporan penelitian;

2) seminar, diskusi, dan lain-lain pertemuan ilmiah;

3) pernyataan pemegang otoritas;

4) pengamatan sepintas;

5) pengalaman pribadi; dan kadang kala

6) perasaan intuitif

  • Contoh satu rumusan masalah penelitian kuantitatif dan satu rumusan masalah penelitian kualitatif.

a. Satu rumusan masalah penelitian kuantitatif

-    Contoh rumusan masalah deskriptif

Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata per hari siswa SMPN 272 Jakarta?

-          Contoh rumusan masalah komparatif

Adakah perbedaan, motivasi belajar dan hasil belajar bahasa Indonesia antara murid yang berasal dari keluarga Guru, Pegawai Swasta dan Pedagang?

-          Contoh rumusan masalah asosiatif

1) Hubungan Simetris

Adakah hubungan motivasi belajar dan prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas IX SMPN 272 Jakarta?

2) Hubungan Kausal

Adakah pengaruh penguasaan kosa kata terhadap kemampuan mengapresiasi novel remaja siswa kelas VIII SMP N 272 Jakarta?

b. Satu rumusan masalah penelitian kualitatif

Bagaimanakah perkembangan kemampuan kerja antara lulusan SMA dan SMK?

6. Jelaskan pengertian variabel dan jenis-jenisnya dengan contoh dalam penelitian bahasa dan sastra!

a. Pengertian Variabel

Kerlinger (2000) berpendapat bahwa variabel adalah simbol atau lambang yang di dalamnya diletakkan bilangan atau nilai. Sevilla (1997) mendefinisikan variabel sebagai suatu karakteristik yang memiliki dua atau lebih nilai atau sifat yang berdiri sendiri.

Variabel penelitian diartikan sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan atau penelitian. Variabel penelitian dinyatakan sebagai faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti.

b. Macam Variabel

variabel kuantitatif terdiri atas dua kelompok, yaitu :

1. Variabel diskrit (discrete), yaitu variabel kuantitatif yang tidak memiliki nilai pecahan. Misalnya : Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa UNJ angkatan 2009/2010 (60 orang, tidak 59,9 orang). Variabel diskrit  merupakan hasil perhitungan.

2. Variabel bersambung (continous), yaitu variabel kuantitatif yang mempunyai angka pecahan. Misalnya: Jarak tempat tinggal dengan sekolah adalah 7 km. Sesungguhnya jarak tersebut tidak  tepat 7 km, tetapi berada di antara 7,9 km hingga 8,1 km. Variabel bersambungan merupakan hasil pengukuran.

c. Jenis-Jenis Variabel

1) Variabel Independen (variabel bebas) : variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor, antecendent. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).

2) Variabel Dependen (variabel terikat) : variabel ini sering disebut sebagai variabel output, kreteria, konsekuen. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas.

3) Variaber Moderator adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel disebut juga variabel independen kedua.

4) Variabel Intervening (variabel antara) adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen menjadi tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur.

5) Variabel Kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga hubungan variabel independen dan variabel dependen tidak dipengaruhi oleh faktor luar yang tidak diteliti.

Contoh Jenis-Jenis Variabel :

Judul :  Pengaruh penguasaan kosa kata dan frekuensi membaca terhadap kemampuan mengapresiasi novel remaja siswa SMPN 272 Jakarta.

  • Variabel dependen (terikat)       : kemampuan mengapresiasi
  • Variabel independen (bebas)     : penguasaan kosa kata
  • Variabel moderator (atribut)      : frekuensi membaca
  • Variabel intervening (antara)      :
  • Variabel kontrol                                :

7. Jelaskan batasan pengertian populasi, populasi target, populasi terjangkau, kerangka sampling, dan sampel!

a. Pengertian Populasi

populasi adalah keseluruhan subjek/objek psikologis yang dibatasi oleh kreteria tertentu untuk dikenai generalisasi penelitian

b. Pengertian Populasi Target

Populasi target adalah sekelompok subjek/objek (manusia, binatang, peristiwa atau benda) yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti sebagai sasaran penelitian sehingga menghasilkan suatu kesimpulan hasil penelitian. Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran penelitian yang nantinya akan menjadi cakupan kesimpulan.

c. Populasi Terjangkau

Populasi itu disebut pupulasi terjangkau apabila populasi yang terdiri  atas sekelompok subjek/objek yang dijadikan sasaran penelitian itu terdata. Misalnya siswa kelas IX SMP N  FAJAR  tahun pelajaran 2009/2010.

d.  Kerangka Sampling

Sampling adalah sebuah prosedur atau cara untuk memilih bagian unit yang ada dalam suatu populasi.

e. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah subyek/objek dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut, yang menjadi pusat atau fokus pengamatan dalam penelitian.

8. Jelaskan perbedaan antara penarikan sampel random (probabilitas) dan nonrandom (nonprobabiltas)!

1. Sampel Probabilitas
Sampel probabilitas adalah himpunan unit / elemen observasi yang dipilih sedemikian rupa sehingga unit/elemen dalam populasi tersebut memiliki peluang yang sama untuk terpilih.
Jenis – jenis sampel probabilitas
a. sampel acak sederhana
b. sampel acak berlapis
c. sampel acak klaster
d. sampel acak dua tahap

2. Sampel Nonprobabilitas
Sampel nonprobabilitas adalah angggota populasi tidak diberi kesempatan / peluang yang sama untuk dijadikan sampel.
Jenis – jenis sampel nonprobabilitas :
Sampel sistematis
Sampel purposif
Sampel kuota

9. Bagaimana langkah-langkah di dalam penyusunan instrumen penelitian?

Menurut Hadjar, yaitu:

1). Mendefinisikan variabel;

2). Menjabarkan variabel ke dalam indikator yang lebih rinci;

3). Menyusun butir-butir;

4). Melakukan uji coba;

5). Menganalisis kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability).

Suryabrata untuk alat ukur khususnya atribut non-kognitif adalah:

1). Pengembangan spesifikasi alat ukur;

2). Penulisan pernyataan atau pertanyaan;

3). Penelaahan pernyataan atau pertanyaan;

4). Perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba);

5). Uji-coba;

6). Analisis hasil uji-coba;

7). Seleksi dan perakitan instrumen;

8). Administrasi instrumen;

9). Penyusunan skala dan norma

  1. Berikan sebuah contoh judul penelitian korelasional dalam pengajaran bahasa dan sastra (dengan dua variabel bebas dan satu variabel terikat) dan rumusan masalahnya!
  1. Berikan sebuah contoh judul penelitian eksperimen dalam pengajaran bahasa dan sastra (dengan dua variabel bebas dan satu variabel terikat) dan rumuskan masalahnya!

 

THE ORIGINS OF HUMAN LANGUAGE Islamic Perspective and Science

THE ORIGINS OF HUMAN LANGUAGE     Islamic Perspective and Science

Abd. Ghofur

Most humans have developed an ability to communicate through oral language.  By age four to  six or seven, most humans can comprehend, as well as express, written thoughts.  These unique abilities of communicating through a native language clearly separate humans from all animals.  The obvious question then arises, where did we obtain this distinctive trait?  Organic evolution has proven unable to elucidate the origin of language and communication.  Knowing how beneficial this ability is to humans, one would wonder why this skill has not evolved in other species.  Materialistic science is insufficient at explaining not only how speech came about, but also why we have so many different languages.  Linguistic research, combined with neurological studies, has determined that human speech is highly dependent on a neuronal network located in specific sites within the brain.  This intricate arrangement of neurons, and the anatomical components necessary for speech, cannot be reduced in such a way that one could produce a “transitional” form of communication.  The following paper examines the true origin of speech and language,based on Islamic perpective and Science  and the anatomical and physiological requirements.  The evidence conclusively implies that humans were created with the unique ability to employ speech for communication

Keyword: Human language

  1. Introduction

When the questioned about the affairs of human existence in this world could be based on the opinions of religion agreemen that Adam was the first man created by God. It is said that this is Gods creation, is the creation of both because they were given no priority compared with other creations. The question that arises then is: whether the attributes that make human beings different from and better than any other creature? Apparently physical strength is not the right answer because a lot of very powerful beings in the face of their wild habitats. When people favor the ability sensory organs, it is still a lot more other creatures in the world have the sensory abilities far more perfect and very sensitive (ultra-sonic and infrared). So what distinguishes it?

The evolutionary theorists[1] believe that the difference between humans and other creatures is his ability to communicate with language. With these attributes can be separated from human existence in the animal kingdom  is a form of superiority and God-given. This means that in the real world there is no non-human languages because the language is to communicate with humans. In this context language is an attribute that is Distinctive behavioral (distinguishing behavior) for men in this world.

So is it really language? Why  there is a language among humans? How language is used by them? What is the form  of the language? May be many more rows of questions about language. The Questions that are the starting point of human philosophical thought about the existence of language in the world.

Many experts have given a definition of the language. Sapir (1921), for example, stated that the language … is a purely human and non-instinctive method of communicating ideas, emotions and desires by means of voluntarily produced symbols. This means that the language is only used by humans and become a tool for expressing opinions, feelings and desires through symbols. Hall (1968) adds that the language  is the institution whereby humans communicate and interact with each other by means of habitually used oral-auditory arbitrary symbols. Finally, among the human language is a tool to communicate, interact, express, express their opinion / ideas, and to transmit culture to the next generation.

As what has been described above regarding the definition of language, the language is something that can be understood in the communication process. This refers to the shape and how language is used by humans. It is said that the language is used more oral than written language. The first time people use sign language to communicate and eventually long evolved into understandable language. So it is with written language. Primitive people have started communicating with their writings can be found in the relics, such as inscriptions. And time is very important in the development of human language as the development of human evolution itself.

The anthropologists concluded that humans and language developed together. Human beings are on earth approximately one million years old. The factors affecting the development of Homo sapien also affects language development. The upright body shape, eye shape, and stereoscopic celebra cortex that does not exist in other animals have helped human evolution. Alter brain development from a little man  become real human beings. They  have the ability to find and use the tools and began to speak. In other words, language arises. Thus a thought on the origins of language in the appearance of human  first time. This is what gave birth to the various theories about the origin of language.

There are various predictions and theories presented by experts on the origins of human language, but no theory can really be proven until now. Among those theories are based on the theory of religion (divine origin), and theories based on science (natural evolution hypothesis).

Referring to what has been described above, in this paper will be delivered a presentation on the origins of language from two different perspective. From the religious point of view, the writers tries to give a careful description of how the Islamic religion at the origin of human language. In addition, will explain how the science to answer the same question.

B. The Origins of Language  Theories

With regard to the origin of language, there is no theory can really be proven up to  now. But there are two kinds of theories that can be a reference to think about how to be the origin of language. First, a theory rooted in the divine (beliefs in divine creation). Second, the theory which refers to natural hypotheses (Hypotheses natural evolution). [2]

According to the first theory, in general, the existence of the language at first because of the intervention of God as the creator of the first human beings believed to be also the first language. In other words, language and language skills in humans is given when humans were created by God. The Jews believe that God created the world with the words instantly without any effort. In other parts of the Jewish holy book says that the language of God is given to human beings can control and conquer the world. In the Gospel is mentioned in Genesis 2:19 that God created Adam as the first man with the ability to talk.[3] While the language of Hindu culture is the grace of Goddess Saraswati wife of brahma the creator of the universe.

The second theory is more emphasis on the facts or the result of observation through the process of human inkuiri. This theory is more often referred to hypotheses about the origin of language which later evolved to become more serious basic sufficient knowledge base representative as the location to see traces of human language. There are two increments that describe these hypotheses, the traditional approach and modern approaches.

The Approach was much influenced by traditional assumptions derived from a simple observation about the emergence of the first language. For example on Psammetichus[4] research conducted in Egypt, the story of the first language according to the Chinese[5], Japanese[6], and even Babylon.

But in the late 18th century origins of language speculation moved. This is called organic phase pioneered Johann Gottfried von Herder (1744-1803). He argued that it is not appropriate language for divine grace. In his opinion: language born of the human impulse to try to think. Language is the result of which instinctively jerk like a fetus in the birth process. This theory together with the start of human evolution the appear of  initiated by Immanuel Kant (1724-1804) which was followed by Charles Darwin

According to Darwin (1809-1882) in the Descent of Man (1871) the quality of human language with the language of animals differ in degree only. Human language as the man himself comes from a primitive form., Perhaps the only emotional expressions. For example, feelings of annoyance or disgust born to remove the air from the nose and mouth, heard as “pooh” or “pish”. This theory is called the Pooh Pooh Theory. Then, Mark Muler introducing or Dingdong Theory called nativistic theory. The theory slightly in line with Socrates proposed that the birth of scientific language. According to this theory humans have a special instinct ability to issue an expression of speech for each impression as a stimulus from the outside. The impression received through the senses, like a blow on the bell to issue the appropriate greeting. Approximately four hundred basic sounds that make up this first language. As the primitives used to see a wolf, this view of the bell vibrating in him so instinctively spoken the  word “wolf”. Unfortunately, Muller on his own theory was  rejected at the end.

Another theory is called Yap-he-ho theory. This theory concludes that the primitive language used to work together. We are also experiencing similar work, for example, when we lifted the wood together spontaneously out certain words, because the pressure impulse muscle. Similarly, primitive people earlier times, when work was, the vocal cords vibrate so they born on special remarks for each action. Utterances were then becomes a name for the job as ‘heave’ (lift), ‘rest’ (silence) and so on.

The theory is rather endure Bow-wow or Onomatopoetic[7] Theory, also called Echoic Theory. According to this theory the words the first time is a clone of thunder, rain, wind, rivers, ocean waves and other

Another theory is called Gesture Theory,  saying that precedes the speech signal. Advocates of this theory shows the use of signals by various animals, and also signal system used by primitive people. One example is the sign language used by Indian tribes in North America when communicating with other tribes that do not the same language.

Finally, modern approach appears to show the facts that is more acceptable and logical if people thought about the appearance of human language. According to modern thinking, human beings are created with the physical equipment that is perfect to allow the speech (read: language skills). But speech is not only a physical organ work. In the process of speech, psychological factors were involved. West (2000) states “Speech, as language, is the result of man’s ability to see phenomena symbolically and of the necessity to express his symbols …”. In other words, the speech as well as the language is the result of human ability to see the symptoms as symbols, and his desire for the symbols.[8]

There is also a saying that the development of human language as well as language development in infants develop into adults. Jespersen Otto (1860-1943) saw the similarities between human language and the first baby. The first human language has almost no meaning, like a song just as the sayings of the baby. Over time the speeches were developed to perfection.

C. The Origin of Language in the view of Islam

Islam is a religion that covers issues creed, worship, and behavior. The language is the instrument to articulate these three issues. So that the language is just the media or instrument, he was not the goal. On this basis, then every prophet was sent to his people by using the people’s language. As word of God in his word:

 “We never sent a prohet, but with the language of his people, so that he can explain clearly to them. So God astray whom He pleases, and gives guidance to whom He will. and He is God Almighty, the Wise.” (QS. Ibrahim, 4)

The language issue has been confirmed of God in the Qur’an, that one proof of his power is the existence of differences in language and skin color.

“And among the signs of His power is the creation of the heavens and the earth and diverse language and skin color. Surely, with that situation  actually there are signs for people who know” (Surat ar-Rum, 22).

 

To those adherents of Islam above verse is believed that the language be controlled by humans on earth is a creation of God. So that could be concluded that the diversity of language is the characteristic of the earth. However, it should be noted that the Qur’an and Sunnah which are the two main sources of Islamic teachings and the message brought by Prophet Muhammad is using  the Arabic language. So that mankind for adherents of Islam are obliged to follow this treatise indirectly to understand Arabic. However, whether Arabic became the language used by the first Adam and Eve, the statement can not be scientifically proven, and have not found an authentic evidence in the Qur’an.

Further described in the Qur’an

“And If We have made it a Quran reading in languages other than Arabic, they would say: ‘Why not verses? ‘Does (should al-Quran) in a foreign language is (the Apostle is the) Arabic? Say: ‘Al-Quran is guidance and a bidder for the believers. And those who do not believe in their ears is deafness, that the Qur’an was a darkness to them. (Surat Fushilat, 44)

However, Imam Shafi’i,ra. Said,” Allah, requires all mankind to learn Arabic, because the dialogue between God and mankind is through the Holy Qur’an (Arabic-speaking) and God set that recite Qur’an including forms of worship . (Hawwa, 1993). On the made of Arabic as the official language of Muslims does not mean delete and remove the other languages. This is because the Qur’an and Sunnah as a source of Islamic law is written in Arabic, then the knowledge of Arabic structure must be mastered by every moslem who will perform ijtihad. (Abdullah, 2002). Expression that Arabic is the official language of Muslims, it is not on the basis of race. In the view of Islam learn Arabic is a pride. Prophet Muhammad, said:

“O mankind, truly God Almighty Keeper is one. Our ancestors also one (Adam).and true religion we are also one. The Arab of yours not on the basis of his father and mother, but the Arabian  is because of the language spoken by the tongue. He who spoke Arabic, so he is an Arab.

From the realm of religion then we revert to their respective adherents extent  believe to their believenes, as well as the origins of human language. To what extent we should believe what we believe

D. The Origin of Language in Science Perspective

Science is the embodiment of human curiosity because of his amazement at something[9]. The Inkuiri process which then reinforced with the ability to think to be the main basis for the emergence of new sciences. The case with the origin of language which is always questionable. Scientists are also trying to give a real contribution to the mystery of human language through science. Science is developing in line with the development of human civilization. Human civilization, one of which is a form of language used, is a representation of the mindset that they embrace the culture. Along with that, evolutionary theorists often link between the development of the human brain by the appearance of language.

  1. Biological Aspects of Human

In biology, humans usually studied as one of the many species on earth. Learning human biology is also sometimes extended to the psychological aspects and physical aspect, but usually not to the spiritual or religious. In biology, the human is defined as hominids of the species Homo sapiens. The only remaining subspecies of Homo sapiens is Homo sapiens sapiens. They are usually regarded as the only species that can survive in the genus Homo. Humans use their tool of movement (two feet)  perfectly. With both feet to move the body, both front legs can be used to manipulate the object using the thumb . Carolus Linnaeus classify the human species becomes:

From this classification of human belonging to homo sapiens (wise beings) and is suspected because of the large brain volume and function properly. Wise is able to think well and useful. Function that makes the brain has an important role in human positions such as homo sapiens. Then, the human brain believed to also as the forerunners of the creation of language.

 

  1. Human brain and language

Referring to the biological aspects of humans, the appearance of language depends on the development of the human brain itself. In its evolution, the human brain develops, from the simple structure into a more developed structure of perfect (a sophisticated). This is what led to the discovery of language and language learning. Both were made possible because people believed in their brain has what is called LAD (language acquisition device) or the language acquisition device. With regard to evolution, oral language (vocalization) and sign language (gestures) are inherited from previous generations of ancestors have been developed in such a way as to create the language system in the brain. According to the hypothesis of natural evolution, so be creative capacity of human language evolved both biologically and neurologically, the development of a certain system that changes shape to meaning will grow too.

The human brain consists of a large brain (cerebrum) and the small brain (cerebellum), which later divided into four lobes, the frontal, parietal, occipital, and temporal. Overall the human brain is described as follows below:

 

At first, the origin of language complexity could be seen  when the researchers found many cases of patients affected the capabilities of communication. The researchers examined more thoroughly on the things that refers to disability or injury suffered by patients in the brain. They found that the defects or damage to the brain can cause loss of ability to speak (aphasia). In his research, Marc Dax (1836) reported that his patients include those who can not speak normally. Disabilities they experience showed similarities, they have disabled the left brain (left hemisphere of the brain).

In 1861, Paul Broca reported a patient who could only say one word ‘tan’. When this patient died, Broca examined the patient’s brain and found serious damage to the brain called the left frontal cortex (the brain and these areas are referred to as Broca). For the case of such damage to Broca’s area, the patient can still understand the language only they can not produce speech because words can not be formed properly.

In 1876, Carl Wernicke discovered the same problem, only happens in other areas of the brain, exactly at the back of the temporal lobe (later known as Wernicke’s area). The damage to these brain areas result in loss of ability to understand language. As a result, the patient was still able to speak but the layout or arrangement of words generated was so confusing that are not understood at all. Interestingly, both areas of Broca and Wernicke areas both in the hemisphere (hemisphere) left brain. This suggests that the inability of language experienced by patients with disorders of the brain damage comes from the left area of the brain (left hemisphere).

In the theory of evolution, experts allows a fact that social interaction is more often done along with the ability of human beings in their tactical interactions will encourage the development of their brains. In addition, factors also affect the food, especially meat diet is very important for brain development. Here at last withdrawn an assumption that the size of the human brain evolved along with their language.

 

3. How Languages Work Causing Human Brain?

As we know that the human brain is divided into two hemispheres (halves), the right and left. Brain function of the left hemisphere would allow someone to have intelligence in certain areas such as analytical thinking, logic, science and math, and language. Broca’s area and Wernick in this section. Broca’s area plays an important role in the formation of speech which will form the language (not one definition of the language is spoken?). While Wernicke’s area involved in language comprehension (meaning).

The function of the right hemisphere of the brain will allow a person to have intelligence in terms of thinking that is holistic, intuitive, creative, and artistic. It is described as follows:

Role of the human brain in tracing the origin of language is described in the system works. The process of how the brain works can be described as follows:

 

When we say a word that reads, preliminary information obtained from the eyes and then forwarded to the visual cortex. From the visual cortex, information is sent to the rear of the speech area (posterior speech areas, including Wernicke’s areas). From there the information transmitted to Broca’s area and the primary motor cortex (primary motor cortex). This is where muscle contraction occurs that causes the sound (speech). Another case when we say the word sounded. That act is no longer the visual cortex, but the auditory cortex. Complexity neural network system like this does not happen in the brains of animals

Along with the development of the human brain from time to time also developed human language. Human brain in the beginning was so simple and allows for a simple language well, ranging from sign language to spoken language is more complex. The development of the human brain from time to time is also influenced by elements of human consumption of food to nourish the brain. The brain will then grow more complex, and how to trigger the human brain works to produce more complex language well.

According to the theory of evolution, language eventually evolved along with the development of the human brain. At the beginning of human civilization began not in languages like today. Although eventually found written language, the spoken language has the important  role in human civilization until now. Sciences that address the language problem was developed starting from the role of language structure to meaning and use of language by the user community. Moreover currently developing the science of language that connected with other knowledge such as neurolinguistic medicine, experimental phonetics, psycholinguistics,etc.

 

E. Closing

Back to the concept of believeness, that we believe what in theHoly  Qur’an as a way of life for Muslims, we have to believe of what the Qur’an said, as one of the pillars of faith, believe to the Holly Qur’an. However, at the level of logic is still not yet answered what and how the human language of the earth. As an effort to uncover the origins of human language, the role of science is important. Science at the origin of language as a link between the development of human civilization itself with the biological aspects. Human biological aspects of participation ultimatum to the appearance of language is the brain. From this evolutionary theorists believe that human language emerged and evolved as the function and development of the human brain.

 

Referensi

Abdullah, Taufik dkk. 2002. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve

Al Qur’anul Karim

Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Unair Press

 

Gallagher, Kenneth T. 1994. Epistemologi: Filsafat Ilmu Pengetahuan. Diterjemahkan oleh Dr. P. Hardono Adi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

 

Hawwa, Said. 1993. Al Islam. Jakarta: Gema Insani Press

 

Harrub, Brad, Bert Thompson, and Dave Miller. 2003. “The Origin of Language and Communication” ) di http://www.truorigin.org/language01.asp

 

Lieberman, P. 1998. Eve Spoke: Human Language and Human Evolution. p. 5, New York: W.W. Norton

Owens, Robert E, JR, 2008, , United States of America: Perason International edition Language Development

Poedjosoedarmo, Soepomo. 2003. Filsafat Bahasa. Yogyakarta: Muhammadiyah University Pess.

Wahab, Abdul. 1998. Butir-butir Linguistik. Surabaya: Unair press

Vajda, Edward. 2002. “The Origin of Language” di http://pandora.cii.wwu.edu/vajda/ling201/test1materials/origin_of_language.htm

 


[1]  ‘Speech is so essential to our concept of intelligence that its possession is virtually equated with being human.  Animals who talk are human, because what sets us apart from other animals is the “gift” of speech’ (see Lieberman, P., Eve Spoke: Human Language and Human Evolution, W.W. Norton, New York, p. 5, 1998)

 

 

[3] Based on Gospel about the origin of human language was spoken in the story of babel Tower, as quote.” Now the whole earth had one language and one speech’ (11:1).  When Noah and his family stepped off the ark, they spoke a single language that was passed on to their offspring.  As the population increased, it apparently remained localized in a single geographical region.  Consequently, little or no linguistic variation ensued.  But when a generation defiantly rejected God’s instructions to scatter over the planet, God miraculously intervened and initiated the major language groupings of the human race.  This action forced the population to proceed with God’s original intention to inhabit the Earth (cf. Isaiah 45:18) by clustering according to shared languages”. see Harrub et al (2003) di http://www.truorigin.org/language01.asp

 

[4] In the 17th century BC king of Egypt, make inquiries about Psammetichus first language. According to the king if he left the baby would grow up and speak the language of origin. To investigate these two babies taken of in ordinary families, and handed over to a shepherds cared for. Shepherd is forbidden to speak a word to the babies. After the baby was two years old, they were greeted with the shepherd spontaneous with the word “Beco”;. Soon the shepherd had to face and told His Majesty that. Psammetichus immediately investigate and consult with advisers. Becos they think means bread in Phrygia; and this is the first language. This story was revealed to the people of Ancient Egypt, so they egypt language is first language

[5] A turtle sent by God brought the language (written) to the Chinese people

[6] In Japan, the first language associated with their Lord, Amaterasu

[7] Mark Muller commented sarcastically that the theory applies only to the sound of crowing chickens and ducks, but many language activities occur outside the corral. However the least percentage of these words, we do not deny the existence of those words. In English there are words bable, Rattle, Hiss, cuckoo, and so on. Vocabulary words in the Indonesian language as well have the words like that: booming, vibrating, hiss, squeak, crowing and so on.

 

[8] As an example we imagine a clear lake surrounded by shady trees which dimukimi birds and other wildlife. For a person might endanger the lake earlier, could have sink, deadly. For others this may be a source of pond life for her child. Maybe fish a lot. For the others may be the source of inspiration, can be used as a place to rest, relax the muscles while waiting for  fall inspiration. In these three inner turns out there are different psychological impression. These impressions have spoken with the speech. In words these impressions must be expressed by vocal symbols, until the unspoken words for example: the danger, horror, in, cold, sink, float, flow, etc.; many fish, a good, broad, and etc; beautiful, cold, gentle, calm, peaceful, cool, free, peaceful, a source of inspiration and so on

[9] lihat Gallagher, Kenneth T. 1994. Epistemologi: Filsafat Ilmu Pengetahuan. Diterjemahkan oleh Dr. P. Hardono Adi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

 

JEJAK-JEJAK BAHASA MANUSIA DAN PERKEMBANGAN TRADISIONAL GRAMMAR

JEJAK-JEJAK BAHASA MANUSIA DAN PERKEMBANGAN TRADISIONAL GRAMMAR

Abd. Ghofur

Abstrak

This paper tried to reveal the development of traditional grammar, which began by tracking the origin of human language, viewed from various perspectives, religion, philosophy, and linguistic controversy that occurred from the time of Socrates, Plato, Aristotle, to Dionysius Thrax. Descriptive analysis used in this paper given by the difficulty of tracking the sources of successful record which is written in times BC.  And this paper ends with a mouth that up to now the question of what language was first used on this earth has not answered

Keywords:

Bahasa manusia, traditional grammar

 

Pendahuluan

Minat manusia terhadap bahasa bukanlah sesuatu yang baru. Dari catatan sejarah ada bukti bahwa sejak jaman purba manusia sudah tertarik untuk menyelidiki seluk beluk bahasa.[1]  Penyelidikan tentang bahasa oleh sekelompok manusia sebagai bangsa itu yang dicatat secara rapi, ada pula yang tidak dicatat, diceritakan dari mulut ke mulut, dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Bangsa yang membuat dokumentasi yang teratur dan rapi sehingga masih bisa dilacak sampai jaman sekarang  ialah bangsa Yunani. Hampir semua cabang ilmu sebagai hasil kehidupan intelektual manusia: filsafat, moral, politik, estetika, etika, astronomi, matematika, geometri, dan linguistic, di dokumentasikan secara teratur dan rapi oleh bangsa Yunani. Oleh karena itu, minat kita untuk mempelajari bahasa, mulai dari catatan-catatan para sarjana Yunani.

 

Jaman Yunani Kuno

Sebagian besar terminologi yang di pergunakan oleh para ahli bahasa dalam mempelajari bahasa-bahasa modern dewasa ini diambil dari istilah-istilah yang dikemukakan oleh para sarjana Yunani, ketika para ahli filsafat dan ahli retorika bahasa dari bangsa itu memperkenalkannya dalam usahanya mempelajari bahasa. Catatan yang paling awal tentang minat bangsa Yunani dalam dunia bahasa biasanya dikaitkan dengan kaum Sofia dalam abad ke- 5 sebelum Masehi. Dalam bahasa Yunani, sophos berarti bijaksana, Sophia artinya kebijaksanaan, dengan demikian, sophists atau kaum sofia ialah sekelompok manusia yang mempelajari hal ikhwal tentang pemikiran-pemikiran orang-orang bijaksana.

Pada dasarnya, pemikiran kaum Sofia terhadap bahasa itu bersifat praktis, sebab mereka sebenarnya adalah guru retorika, yaitu seni debat terbuka. Kaum Sophia itu mempelajari pidato-pidato yang diucapkan oleh para ahli pidato dan mencatat unsur-unsur kebahasaan yang ada pada pidato-pidato tersebut. Kemudian mereka menasehati murid-muridnya (yang biasanya terdiri dari dari calon-calon ahli filsafat, retorika, dan politisi) untuk menggunakan kata-kata atau kalimat yang dipergunakan oleh para ahli pidato tadi. Jadi model berbahasa yang baik adalah berbahasa seperti yang disajikan oleh para ahli pidato pada jaman itu.

Terkait dengan sumbangan ilmiah bangsa Yunani dalam dunia linguistik yaitu kejelian mereka dalam mengamati pertumbuhan bahasa sebagai hasil kontak antara bangsa  Yunani dengan bangsa luar karena adanya kegiatan perdagangan, diplomasi politik, dan pendudukan daerah-daerah jajahan. Kontak manusia itu membawa perubahan arti sesuatu ujaran. Oleh karena itu, bahasa yang tadinya satu dan sama untuk seluruh negeri, berkembang menjadi berbeda di beberapa bagian negeri. Pertumbuhan bahasa diberbagai bagian negeri itu membentuk dialek-dialek. Studi Herodotus.

Dalam mempelajari berbagai dialek bahasa Yunani itu, Herodotus mengamati kata-kata asing yang masuk ke dalam bahasa Yunani. Kemudian timbul masalah : Dialek mana yang dipakai sebagai bahasa kaum cerdik cendikiawan ? Dalam hal ini Herodotus menyarankan para kaum cerdik pandai untuk mempergunakan dialek yang dipakai oleh sarjana-sarjana Homerik wyang sudah menguasai betul karya tulis Homer dalam sanjak-sanjaknya, Iliad dan Odyssey.

Ilmuwan Yunani lainnya, yakni Plato yang sangat terkenal itu juga membenarkan hasil pengamatan Herodotus, bahwa pada jamannya sudah banyak kata-kata asing yang masuk ke dalam bahasa Yunani. Pendapat Plato itu dinyatakan dalam dialog Cratylus. Disamping pengamatannya terhadap masuknya kata-kata asing ke dalam bahasa Yunani, Plato memberi sumbangan pemikiran yang tidak kecil dalam studi tentang kebahasaan.

Tradisional Grammar

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal terdapat istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa structural. Kedua jenis tata bahasa ini banyak dibicarakan orang sebagai dua hal yang bertentangan, sebagai akibat dari pendekatan keduanya tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantic; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam bahasa tertentu. Dalam merumuskan kata kerja,  misalnya, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang  menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan….”.[2] Plato dianggap sebagai orang pertama yang mempelajari potensi gramatika. Ia membagi kalimat kedalam dua bagian besar, yaitu onoma yang merupakan komponen nominal, dan rhema, yang merupakan komponen verbal. Plato memberi definisi kalimat sebagai unit pikiran terkecil dan sebagai ungkapan verbal yang merupakan ide yang lengkap. Di samping itu, Plato juga merupakan orang pertama yang memperkenalkan studi tentang fonologi, sistem ujaran yang dirangkaikan dengan makna untuk menciptakan sesuatu bahasa.

Dalam studi tentang fonologi itu Plato membuat sejumlah klasifikasi fonem segmental yang berlaku dalam  bahasa Yunani. Ia mengelompokkan fonem-fonem ke dalam bunyi vocal dan konsonan, kemudian ia juga mengelompokkan bunyi konsonan itu ke dalam kontinum dan stop yang tidak dapat diujarkan tanpa bunyi vocal yang menyertainya. Plato juga jeli dalam mengamati perubahan yang ada dalam kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama tetapi bisa lain artinya karena adanya perubahan tekanan dan intonasi, misalnya, kata Dii philos, yang artinya ‘Sahabat Tuhan’, dan kata Diphilos, yaitu nama diri.

Sebenarnya, para ahli ilmu kebahasaan berhutang budi kepada Plato dalam hal menggunakan isltilah gramatika. Plato lah orang pertama yang memperkenalkan kata gramatika itu. Kata ini diambil dari kata grammata, yang berarti ‘dapat membaca dan menulis’. Kata grammatikos dalam bahasa Yunani ialah ‘orang yang dapat memahami penggunaan huruf-huruf dalam bahasa.

Sumbangan Plato dalam dunia linguistik itu kemudian disempurnakan oleh pengikutnya yang paling terkenal, yaitu Aristotel, yang sangat luar biasa luas jangkauan intelektualnya itu. Karya tulisnya meliputi : etika, politik, logika, fisika, biologi, sejarah alam jagad raya, dan linguistik.

Aristoteles memberikan definisi kalimat sebagai suatu pernyataan yang lengkap mengenai sesuatu. Disamping itu, menurut dia, kata ialah suatu unit linguistik, suatu komponen kalimat, yang memiliki arti sendiri, tatapi tidak dapat lagi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil yang mengandung makna tersendiri. Selanjutnya ia menyatakan bahwa kata-kata itu merupakan symbol perasaan dan perwujudan jiwa.

Aristoteles mempelajari karya Plato dalam dunia linguistik dan menambah ide-ide yang telah diperkenalkan oleh Plato. Dia mempertahankan ide Plato tentang pembagian komponen kalimat dalam kategori onoma dan rhema. Di samping kedua pembagian itu, ia menambah komponen yang ketiga, yaitu syndensmoi, suatu kelompok kata yang kemudian dikenal sebagai konjungsi, preposisi, artikel, dan kata ganti (pronoun). Dia pulalah yang memperkenalkan istilah  dan kategori gender dalam onoma. Aristoteles juga menetapkan bahwa ciri kata kerja yang penting itu ialah tense, dengan mengacu pada perbedaan waktu. Dia menghubungkan bahasa dengan sastra dan menyarankan bahwa bahasa hendaknya dipelajari dalam hubungannya dengan logika. Dan selanjutnya dikombinasikan dengan phrase dan clause.[3]

Setelah masa sarjana-sarjana Sofia itu, muncullah kaum Stoic, yaitu suatu aliran filsafat Yunani yang tertarik mempelajari fenomena kebahasaan. Dibawah kaum Stoic yang didirikan oleh Zeno (300 SM) itu, linguistic mempunyai tempat yang penting dalam kontek filsafat secara menyeluruh. Kaum Stoic membedakan bentuk  dari makna, membedakan signifier yang memberi lambang dari signified, yaitu makna yang diberi lambang tersebut.

Kaum Stoic juga mempelajari secara tersendiri aspek-aspek linguistik seperti fonetik, gramatika, dan etimologi. Dalam aspek fonetik kaum Stoic membuat kemajuan dengan mempelajari bunyi ujaran sebagai bagian dari studi tentang bahasa. Kaum Stoic   memperkenalkan adanya perbedaan antara tiga aspek huruf tertulis, yaitu :

Nilai fonetik    / a /

Betuk tulis       α

Nama yang diberikan alpha ® alfa

Dengan teliti, kaum Stoic mempelajari struktur suku kata bahasa Yunani, dan membuat tiga pembedaan antara urut-urutan bunyi :

1)      Yang terjadi sebagai bagian yang mengandung makna dalam sesuatu wacana

2)      Yang bisa terjadi sesuai dengan kaidah-kaidah bunyi yang berlaku dalam sesuatu bahasa, tetapi tidak mengandung makna tertentu, dan

3)     Yang sama sekali tidak mungkin dibentuk dengan kandungan makna dalam bahasa.

Kaum Stoic mengembangkan sistem yang pernah diperkenalkan oleh Aristoteles dalam dua arah :

1)      Jumlah pengelompokan kata-kata ditambah, dan

2)      Definisi yang lebih tepat diperkenalkan pula. Umpamanya, onoma lebih jauh dibagi menjadi onoma yang dikhususkan untuk nama diri dan prosegoria, yaitu kata benda umum, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan common nouns. Sementara itu,  rhema dibagi menjadi rhemata ortha, yang dalam istilah gramatika dikenal sebagai kata kerja aktif transitif, hyptia yaitu bentuk kata kerja pasif, oudetera, biasanya diketahui sebagai kata kerja yang netral atau intransitive. Syndesmoi dibagi lagi menjadi syndesmoi sendiri, yaitu anggota-anggota yang dapat mengalami infleksi dan artha, yaitu anggota-anggota yang tidak akan mengalami infleksi.

Linguistik sejak jaman Yunani ditandai dengan adanya kontroversi-kontroversi. Kontroversi yang pertama ialah kontrovesi antara konsep physic atau nomos dan thesis. Physic dianut oleh mereka yang percaya bahwa kata dan benda itu mempunyai hubungan alamiah, dan karena itu, konsep semacam itu penting dan diperlukan. Untuk mendukung ide bahwa antara kata dan benda itu mempunyai hubungan yang erat, orang-orang yang menganut konsep physis itu menampilkan bukti-bukti yang berupa onomatopoeia, yaitu kata-kata yang mengandung arti sesuai dengan bunyi yang terkandung dalam makna kata-kata itu, seumpamanya, tokek untuk binatang yang berbunyi tokek…tokek….tokek, dan sebagainya. Simbolisme suara, seperti bunyi i untuk melambangkan sesuatu yang kecil mungil, juga dipakai sebagai salah satu argumen bahwa ada hubungan antara kata dan benda yang diwakili oleh kata itu oleh para penganut konsep physis.

Sebaliknya, orang-orang yang menganut konsep thesis percaya bahwa hubungan antara kata dan makna yang terkandung didalamnya itu adalah hubungan arbitrar, tidak di sengaja. Jadi tidak ada hubungan yang berkaitan diantara signifier dan signified.

Kontroversi linguistik yang kedua ditandai dengan adanya pertentangan konsep antara anomaly dan analogy. Kaum analogis percaya bahwa fenomena linguistik itu mengikuti prinsip-prinsip keteraturan, sedang kaum anomalis berpendapat bahwa prinsip-prinsip kebahasaan itu tidak teratur, dan mereka mengatakan bahwa keteraturan itu hanyalah sebagian dari ketidak teraturan.

Dalam dunia linguitik yang menyangkut kontroversi yang kedua ini, tampaknya Aristotel ada pada pihak analogy [tunduk pada kaidah], sedangkan kaum Stoic ada ada pihak anomaly. Sebagai akibat adanya kontroversi ini, ada dua pusat aliran linguistic :

1)      Satu berpusat di Alexandria, yang didominasi oleh para penganut analogy

2)      Yang lain berpusat di Pergamum, yang dikuasai oleh para anomalis

Salah seorang penganut Alexandrian bangsa Yunani yang patut dicatat adalah Dionysius Thrax yang merupakan bapak Grammatika Tradisional. Thrax menulis Techne Grammatika. Dia memberi definisi gramatika sebagai pengetahuan praktis tentang bahasa yang dipergunakan oleh para penyair dan penulis prosa, karena menurut dia, para penyair dan penulis prosa itu tahu benar menggunakan bahasa yang baik dan benar untuk memikat hati para pembacanya.

Menurut Thrax, grammatika harus memiliki enam bagian :

1)      Petunjuk cara-cara membaca yang tepat dengan mempergunakan prosodi yang tepat

2)      Penjelasan tentang ungkapan-ungkapan sastra yang dipakai dalam karya tulis penyair dan penulis prosa

3)     Catatan-catatan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan frasa-frasa yang dipergunakan untuk mengungkapkan isi pokok bahasan

4)     Penemuan etimologi kata-kata penting

5)     Uraian fenomena kebahasaan yang mengikuti keteraturan analogis

6)     Apresiasi terhadap karya sastra, yang menurutnya sebagai bagian yang paling terhormat dalam sesuatu gramatika

Thrax membagi kata-kata menjadi 8 jenis kata.  Pembagian ini tetap dipertahankan sampai abad pertengahan dan banyak mempengaruhi ahli-ahli ilmu bahasa di daratan Eropa sampai kini. Kedelapan  pembagian itu dilengkapi dengan definisi masing-masing jenis kata itu mencerminkan kesadaran Thrax terhadap aplikasi konsep-konsep yang sudah pernah diperkenalkan oleh Aristotel yang memperkuat kubu Alexandrian.

Delapan klasifikasi jenis kata versi Dionisius Thrax itu adalah :

(1)   Onoma, yaitu jenis kata yang dapat mengalamimi infleksi sesuai dengan kasus yang ada, yang menandai orang atau barang

(2)   Rhema atau kata kerja, yaitu jenis kata tanpa mengalami infleksi kasus, tetapi mengalami infleksi karena tense, manusia, bilangan, dan menandai aktifitas atau proses.

(3)  Methoche atau participle, yaitu jenis kata yang mengalami ciri-ciri sebagai kata kerja atau kata benda.

(4)  Arthron atau article, yaitu jenis kata yang mengalami infleksi atuk kasus dan menempati posisi sebelum atau sesudah onoma

(5)  Antonymia atau kata ganti, yaitu jenis kata yang menggantikan onoma, khususnya manusia

(6)  Prosthesis atau preposisi, yaitu jenis kata yang menenpati posisi awal kata-kata lain dalam suatu komposisi atau dalam sintaksis

(7)  Epirhema atau kata keterangan yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi dalam perubahan-perubahan kata kerja atau sebagai tambahan kata kerja.

(8)  Syndesmos atau konjungsi, yaitu jenis kata yang mengikat wacana bersama dan yang mengisi kesenjangan interpretasinya

Dionysius Thrax juga meletakkan landasan deskripsi morfologis bahasa Yunani atas dasar pemikiran kaum Alexandrian. Kelebihannya ialah pandangan umum tentang linguistik lebih bersifat mentalis dan banyak dipengaruhi juga oleh konsep-konsep yang dikembangkan oleh kaum Stoic. Thrax secara tegas membedakan bentuk dari makna, schema, dari ennoia, dan memberikan struktur-gramatika kepada sisi makna.

Jaman Romawi

Dalam abad 3 – 2 sebelum Masehi, Roma merupakan bangsa yang kaya dan kuat dalam segala bidang : politik, ekonomi, dan kebudayaan. Pada tahun 46, Roma menaklukkan Yunani. Tampaknya sudah berlaku sejak jaman kuno bahwa bagsa yang menaklukkan bangsa lain itu juga memboyong tidak saja harta kekayaan dan wanita, tetapi juga para ilmuwan. Ilmuwan-ilmuwan Yunani yang di boyong bangsa Romawi itu membawa perubahan budaya dalam bangsa Roma. Dalam bidang Linguistik pun pemikiran-pemikiran Yunani juga dibawa ke Roma. Dengan demikian linguistik di Roma sebenarnya merupakan perkembangan dari yang ada di Yunani itu. Dua orang sarjana Roma yang terkemuka dalam bidang Linguistik ialah Varro dan Priscianus.

Varro menulis 25 buku mengenai bahasa Latin dengan judul De Lingua Latina, tetapi sayang, tinggal enam buku saja yang sampai sekarang ini bisa diselamatkan. Dia membagi studi tentang linguist tersebut menjadi tiga bidang, yaitu : etimologi, morfologi, dan sitaksis. Dalam bidang pembentukan kata-kata, Varro mempersatukan dua ide yang bertentangan , yaitu analogy dan anomaly, dengan cara menyajikan fenomena kebahasaan yang sesuai dengan dengan prinsip-prinsip keteraturan dan fenomena yang kebahasaan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keteraturan yang terdapat dalam bahasa Latin. Secara masuk akal dia menyimpulkan bahwa kedua prinsip yang bertentangan itu harus di akui kebenarannya dan diterima dalam hal pembentukan kata yang berlaku dalam sesuatu bahasa. Salah satu observasi Varro yang sangat berpengaruh dalam bidang Linguistik ialah konsepnya tentang pembedaan antara perubahan derivasi dan perubahan infleksi, pembedaan yang belum pernah diperkenalkan dalam studi linguistic pada masa-masa sebelumnya.

Sarjana Roma yang lain yaitu Priscianu, yang mengajar gramatika Latin di Constatinople pada abad ke-5 itu menganggap bidang studi ini secara sistematik dan membuat deskripsi yang terinci mengenai bahasa yang dipakai dalam karya sastra Latin Kuno. Struktur ucapan dan suku kata dideskripsikan dengan member tanda huruf. Dia mendeskripsikan suku kata sebagai bagian terkecil dari artikulasi ujaran. Dari fonetik, Priscianus meningkat ke morfologi, dan member definisi kata (dictio)  dan kalimat (oratio) sama seperti yang telah diperkenalkan oleh Dionysius Thrax, yaitu kata didefinisikan sebagai unit terkecil dari kalimat, dan kalimat sebagai ungkapan pemikiran yang lengkap.

Setelah Priscianus meneliti 8 klasifikasi yang sudah diletakkan dasarnya oleh Thrax itu, dia membuat klasifikasi yang hampir sama, bedanya, ia meninggalkan artikel dan memperkenalkan istilah interjection atau yang dikenal dengan kata-kata seru.

(1)   Nomen atau kata benda

(2)   Verbum atau kata kerja

(3)  Participium atau participle

(4)  Pronomen  (pronoun)

(5)  Adverbium atau kata keterangan

(6)  Prepositio atau preosisi

(7)  Interiectio atau interjecsi

(8)  Coniunctio atau conjungsi

Jaman Pertengahan

Abad pertengahan ialah istilah yang dipergunakan untuk menandai periode dalam sejarah Eropa diantara jatuhnya Kekaisaran Romawi sebagai kekuasaan yang mampu membawa kebesaran pradaban dan administrasi, serangkaian peristiwa serta perubahan-perubahan kebudayaan yang dikenal sebagai jaman Renaissance, yang biasanya diterima sebagai pintu gerbang fase kehidupan modern.

Dalam abad 13, ada sekelompok sarjana filsafat yang dinamakan kaum Modistae. Kata modistae berasal dari kata modus, mode atau mood. Yang berarti cara bagaimana segala sesuatu itu bias ada. Kaum Modistae itu selalu terganggu oleh masalah filsafat yang selalu muncul dalam pikiran mereka. Kaum modistae membawa konsep filosofis itu ke dalam konsep bahasa. Hasilnya studi tentang bahasa dalam gramatika didasarkan pada logika. Mereka percaya bahwa bahasa itu sebagian besar mempunyai sifat universal, dan hanya sebagian kecil saja yang bersifat khusus.

Dalam sistem modistae, ada tiga modes yang diperkenalkan yaitu :

(1)   Moth essensi (modes of existence), ialah cara bagaimana barang sesuatu itu ada

(2)   Moth inteligendi (modes of perception) yaitu bagaimana melakukan persepsi terhadap sesuatu.

(3)  Modi significandi (modes of signifying) ialah lambang yang melambangkan objek.

Diantara ketiga modi diatas, bagi kaum modistae dan penganut-penganut cartesius, modi intelegendilah yang paling penting karena bahasa-bahasa itu menganut prinsip logika, dan bahasa itu tunduk pada aturan-aturan (rule governed0). Sebaliknya, bagi penganut Bloomfield, modi significandi lah yang penting, karena moth significandi itu berbeda dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain, dan itulah yang menyebabkan bahasa itu mempunyai sifat unik. Unik artinya mempunyai cirri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Ciri khas  ini bias menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem yang lain. (Chaer, 2003:51)

 

 

 

Linguistik Komparatif

Sebagai hasil Renaisannce, Eropa berkembang dengan pesat dalam segala bidang. Penjelajahan daerah-daerah baru juga dilakukan. Dalam hal penjajahan daerah baru diseluruh bumi itu, prosedur yang biasa ditempuh adalah : pengiriman pasukan perang untuk membuka jalan kearah pendudukan wilayah dan kemudian, setalah daerah baru itu bisa dikuasai datanglah para pedagang untuk memanfaatkan sector ekonomi, dan kalau segala sesuatu sudah aman datanglah kaum misionari untuk menyebarkan agama Nasrani.

Dalam usaha menyebarkan ajaran agama, misionari diwajibkan memiliki kemampuan untuk membujuk warga pribumi, dengan sendirinya mereka harus menguasai bahasa penduduk asli. Tetapi, analisis yang mereka lakukan terhadap bahasa penduduk asli itu didasarkan pada acuan Gramatika tradisional yang berakar dari bahasa Yunani dan latin. Ternyata Gramatika tradisional model gramatika bahasa Yunani dan latin tersebut tidak semuanya dapat diterapkan ke dalam bahasa penduduk asli. Dibutuhkan banyak hal untuk mengkaji kesesuaian bahasa tersebut, yang selanjutnya berujung pada perkembangan Linguistik komparatif.

Penutup

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa. Bahkan dalam mimpipun manusia menggunakan bahasa. Sehingga tidak salah kalau kita katakana  bahwa bahasa itu dinamis.

Bahasa itu tidak statis, dalam semua bahasa ujaran-ujaran baru selalu diciptakan. Seorang anak yang belajar bahasa memiliki sifat aktif dalam membentuk dan menghasilkan ujaran-ujaran yang belum pernah didengar sebelumnya. Yang selanjutnya membentuk pola-pola baru sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan.

Demikian pula dalam konsep Tradisional Grammar, pola-pola tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan jaman yang disertai dengan kontroversi-kontroversi dari para penganutnya. Namun demikian sampai saat ini pertanyaan tentang kapan, dan  bahasa apa yang digunakan manusia pada awal terjadinya manusia belumlah terjawab.  Wa Allah a’lam bi al-sawãb.

 

Daftar Bacaan

Chaer, Abdul, 2003, Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul, 1990, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta

Clark, Virginia P., Paul A. Escholz, dan Alfred F rosa (editor), 1981, Language: Introductory Reading, New York: St Martin’s press

Duranti, Alessandro, 1997, Linguistic Antropology, United Kingdom: Cambridge University Press

Kolln, Martha., Robert Funk, 2009, Understanding English Grammar, United States : Pearson Education Inc

Pei, Mario, 1970, The Histoy Of Language,  Alih Bahasa Nugroho Notosusanto. Jakarta:Bratara

Ruhlen, Merrit, 1994, On the Origin of Language studies in Linguistic Taxonomy, Stanford California, Stanford University Press

Russel, Bertrand, 2004, Sejarah Filsafat Barat Kaitannya Dengan Kondisi Sosio Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, Yogyakarta : Pustaka pelajar

 


[1] Ruhlen , 1994, On the Origin of Language studies in Linguistic Taxonomy, Stanford California, Stanford University Press, hlm 2

[2] Baca, Chaer, 2003, Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta , hlm 333

 

[3] Baca, Kolln, et al, 2009, Understanding English Grammar, United States : Pearson Education Inc, hlm 5

ANALISIS NOVEL THE ALCHEMIST KARYA PAULO COELHO (KAJIAN FILSAFAT SASTRA DENGAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI) Oleh : Abd. Ghofur

Abstrak:

Tulisan ini mencoba menguak fenomena- fenomena yang terdapat pada novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sebuah novel yang menggambarkan seorang tokoh  bernama Santiago yang mencoba mengikuti kata hatinya untuk membuktikan mimpi yang selalu mengganggu tidurnya. Dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan fenomelologi ala Edmund Husserl, seorang filsuf dari Jerman. Dalam artikel ini penulis menemukan bahwa faktor-faktor fenomenologis mempengaruhi Santiago dalam mengambil keputusan dan bertindak. Yang selanjutnya penulis berkesimpulan bahwa Paulo Coelho adalah seorang penulis novel yang mampu mengetengahkan cerita menarik yang sarat dengan falsasah kehidupan

Keywords :

Fenomenologi, Novel, The Alchemist

Pendahuluan

Istilah fenomenologi sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang menjadi persoalan; apakah hanya sebatas istilah yang sudah lumrah dipakai atau istilah yang bertujuan memperindah bahan pembicaraan saja. Atau pun hanya sebatas pengertian empiris (pengalaman indera-indera kita). Menurut hemat penulis, sudah seyogyanyalah jika kita berbicara mengenai fenomenologi, pasti tidak lepas dari suatu terminologi “what is it?”(Apa itu?). Terdorong dari kemauan untuk memahami secara lebih mendalam tentang apa itu fenomenologi. Pertanyaan inilah yang selalu “terngiang-ngiang” dalam benak penulis, sehingga mengantarkan kepada suatu pengertian yang mendalam mengenai konsep Fenomenologi Edmund Husserl.

Tulisan ini difokuskan pada analisis novel dengan pendekatan Fenomenologi Menurut Edmund Husserl[1]. Sebab ia tokoh pertama selaku pendiri aliran ini. Ia mempengaruhi filsafat abad XX secara mendalam sampai pada penemuan akan analisa struktur intensi dari tindakan-tindakan mental dan sebagaimana struktur ini terarah pada obyek real dan ideal. Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.

Secara material penulisan artikel  ini memiliki tujuan yang mendasar, yaitu sebagai pembuka cakrawala pengetahuan filsafat pada umumnya dan fenomenologi pada khususnya, mengingat pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang memerlukan energi yang cukup untuk mempelajarinya, dalam hal ini  penulis hanya memfokuskan pada  novel The Alchemist karya Paulo Coelho.

Artikel ini mencoba menguak fenomena-fenomena yang ada pada novel The Alchemist, sejauh mana fenomena tersebut mempengaruhi cerita serta pembaca  novel tersebut.

Fenomenologi

Fenomen atau fenomenon memiliki berbagai arti, yakni: gejala, semu atau lawan bendanya sendiri (penampakan). Dalam filsafat fenomenologi ketiga arti fenomen tersebut di atas tidak digunakan sama sekali.[2] Menurut para pengikut fenomeologi suatu fenomen tidak perlu harus dapat diamati dengan indera, sebab fenomen dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani, tanpa melewati indera. Juga fenomen tidak perlu suatu peristiwa. Untuk sementara dapat dikatakan, bahwa menurut para pengikut  filsafat fenomenologi, fenomen adalah “apa yang menampakkan diri dalam dirinya sendiri”, apa yang menampakkan diri seperti apa adanya, apa yang jelas di hadapan kita. Istilah fenomenologi pernah dipakai juga oleh I. Kant[3] dan G.W.F. Hegel[4], akan tetapi filsfat fenomenologi yang akan kita bicarakan ini memakai istilah tersebut dalam arti yang khas, yaitu sebagai suatu metode berpikir tertentu secara khas.

Fenomenologi Husserl menentang habis-habisan tradisi pemikiran yang telah dikembangkan sejak Descartes hingga Hegel. Jika selama itu, pengetahuan dikembangkan lewat konstruksi spekulatif dalam akal budi, maka bagi Huserl, pengetahuan yang sesungguhnya adalah kehadiran data dalam kesadaran akal budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori.

Fenomenologi Husserl menekankan pentingnya suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikan seperti penampilannya. Fenomena yang dimaksud oleh Huserl adalah kehadiran data dalam kesadaran, atau hadirnya sesuatu tertentu dengan cara tertentu dalam kesadaran kita. Fenomena dapat berupa hasil rekaan atau sesuatu yang nyata, gagasan maupun kenyataan. Pendapat Huserl tentang fenomena bukan berarti dia berpihak kepada idealisme atau realisme, juga bukan mensintesiskan keduanya. Fenomenologi Husserl justru bersifat pra-teoritik. Fenomenologi justru menempati posisi sebelum ada pembedaan antara idealisme dan realism.

Husserl, seperti filsuf pendahulunya Rene Descartes, memulai perburuannya mencari kepastian dengan menolak terlebih dahulu apa yang disebutnya sikap yang alami, kepercayaan kepada akal sehat kebanyakan orang bahwa objek ada secara lepas dari diri kita di dunia luar, dan bahwa informasi yang kita miliki tentang mereka secara umum dapat diandalkan. Sikap seperti ini hanya akan menerima pengetahuan tentang kebenaran tanpa mempertanyakannya, sementara justru disitulah masalahnya. Jadi tentang apakah kita bisa merasa jelas dan yakin? Meskipun kita tidak dapat meyakini eksistensi dari benda-benda, menurut argument Husserl, ynag dapat kita sadari adalah keyakinan dari cara mereka langsung muncul dalam kesadaran kita, apakah hal sebenarnya yang sedang kita alami ini ilusi atau bukan.

Disini dapat kita pahami bahwa fenomena Husserl ini adalah sebuah sistem esensi universal, karena fenomenologi membedakan setiap objek dalam imajinasi sampai ia menemukan apa yang tidak dapat dibedakannya lagi .

Dalam hal ini yang ditampilkan dalam pengetahuan fenomenologis bukan hanya, misalnya, pengalaman, cemburu atau warna merah, melainkan tipe atau esensi universal dari objek-objek ini, kecemburuan atau kemarahan sebagaimana adanya.

Fenomena dalam Novel The Alchemist

Penulis memilih Novel The Alchemist disebabkan bahasa yang digunakan lebih familiar, serta alur cerita yang lebih mudah untuk diikuti. Dalam hal ini penulis mencoba untuk  menunjukkan fenomena yang terdapat  pada novel tersebut, dan selanjutnya penulis berusaha menganalisanya dengan menggunakan pendekatan fenomenologis ala Edmund Russerl.

Fenomena yang muncul pada salah satu ceita pada novel tersebut adalah bahwa Santiago dalam tidurnya terganggu oleh mimpi yang mengusik tidurnya. Pada cerita tersebut dikisahkan….

Malam masih gelap ketika dia terbangun. Dia menengadah, dan melihat bintang-bintang melalui atap yang sudah setengah hancur itu.

Aku ingin tidur lagi sebentar, pikirnya. Malam itu mimpi yang sama kembali dialaminya, seperti minggu lalu, dan kali ini pun dia terjaga sebelum mimpi  itu berakhir. Hlm 8

Mimpi yang dialami Santiago menjadi titik tolak baginya untuk melangkah, mengikuti kata hatinya, dimana menurutnya mimpi sebagai bahasa dunia. Tetapi selanjutnya berawal dari mimpi itu pulalah Santiago mengalami berbagai cobaan ataupun masalah.[5]

Mimpi yang dialami Santiago tersebut mungkin terdengar kelewat abstrak, dan memang begitu adanya. Tetapi justru hal tersebut membuat kebimbangan dalam diri Santiago. Penulis  meminjam bahasanya Tery Eagleton mimpi yang menjadi fenomenologis tersebut justru persis berseberangan dengan abstraksi: dalam hal ini ia kembali pada hal-hal yang konkrit, landasan yang kukuh, seperti yang tersirat dalam slogan fenomenologis, yakni ‘kembali ke hal-hal itu sendiri.[6] Hal iti ditunjukkan dengan keputusan yang diambil Santiago dengan mendatangi seorang perempuan Gipsy untuk meramal atau mengartikan arti mimpinya.[7] Apa yang dia dapatkan justru sesuatu yang meragukan, tidak adanya kepuasan bagi Santiago dari apa yang telah disampaikan oleh sang Gipsy  tersebut.

Selanjutnya dibutuhkan kesadaran manusia itu sendiri (Santiago) untuk menentukan jalan yang akan dia pilih, dimana kesadaran manusia yang kita pahami bukan hanya sebagai pengalaman empiris yang hanya dimiliki orang-orang tertentu saja, tetapi sebagai ‘struktur mendalam’ dari pikiran itu sendiri[8]. Dengan demikian fenomenologi berusaha memahami kenyataan sebagaimana adanya. Kenyataan itu merupakan kenyataan yang belum ditafsirkan oleh ilmu-ilmu positif dan filsafat.

Selanjutnya pada cerita yang lain dikisahkan Santiago bertemu dengan Raja Salem yang bernama Melkysedek, disitu diceritakan bahwa Santiago kembali terpengaruh dengan keinginan untuk membuktikan apa yang dialami  pada mimpi-mimpi malamnya. Dan raja tersebut memberikan dua buah batu sebagai alat bantu manakala Santiago ingin membuat keputusan[9].

Dalam hal ini Al Qur’an surat Yusuf ayat 67 menyebutkan :

67. …dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.

Gejala yang muncul adalah bahwa disini tingkat kepercayaan seseorang mulai diuji, dalam hal ini sejauh mana tingkat kesadaran seorang manusia diajak untuk mempercayai batu yang notabene merupakan benda mati yang tidak dapat bicara ataupun memberikan keputusan secara akal dan nalar yang pasti. Meskipun dalam Pandangan Imanuel Kant dia menyatakan terdapat sesuatu hal yang memungkinkannya untuk menarik demarkasi antara dunia fenomenal yang berisi hal-hal yang dapat diketahui dan dunia numenal yang memuat hal-hal yang tak dapat diketahui  yang berada diluar wilayah yang melampaui dunia fenomenal atau dunia keseharian itu[10]. Seperti halnya Plato, Kant disini juga meminjam  “mata Allah” untuk keluar dari konteks ruang dan waktu, bahwa semua yang ada dan terjadi karena takdir, dan perjalanan hidup seseorang semuanya sudah termaktub. Tentang taqdir juga disebutkan dalam Al Qur’an

17. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

Seperti hanlya Santiago menggunakan istilah termaktub dalam novelnya, yang berarti bahwa semua yang terjadi pada semesta ini karena kehendak-Nya. Wallahu a’lam bi as shawab.

Klimaks

Dua fenomena yang coba diangkat oleh penulis, menunjukkan bahwa hal tersebut sangat berpengaruh pada jalan cerita yang coba di munculkan oleh Paulo Coelho, terlepas apakah fenomena tersebut sengaja dimunculkan ataukah hanya mengalir mengikuti ide cerita yang terlebih dahulu ada. Namun demikian penulis yakin bahwa fenomena yang terdapat pada novel tersebut diangkat berdasarkan hasil imaginasi seorang penulis yang genius, sehingga  mampu memberikan banyak interpretasi yang berbeda-beda bagi pembaca.


[1] Edmund Husserl lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat; mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia. Periksa, Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 114

[2] Baca, Sudarsono, 2001, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta, hlm 340

[3] Immanuel Kant, filsuf Jerman abad XVIII, melakukan pendekatan kembali terhadap masalah diatas setelah memperhatikan kritik-kritik yang dilancarkan oleh Hurne terhadap sudut pandang yang bersifat empiris dan yang bersifat rasional. Baca, Louis Kattsoff, 2004, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogyakarta, hlm. 137

[4] Hegel (1770-1831) ialah puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant; walaupun ia sering mengkritik Kant, sistem filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pengaruhnya, kendati kini surut, sangat besar, tidak hanya atau terutama di Jerman. Pada akhir abad kesembilan belas, para filsuf akademik terkemuka, baik di Amerika maupun Britania raya, sangat bercorak Hegelian. Diluar filsafat murni, banyak teolog protestan mengadopsi doktrin-doktrinnya, dan filsafatnya tentang sejarah mempengaruhi teori poiltik secara mendalam.  Periksa, Bertrand Russel, Sejarah Filsafat barat kaitannya dengan kondisi sosio-politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hlm 951.

[5] Masalah yang timbul ini mungkin karena yang kita temukan, saat kita mencoba menelaah isi benak kita, tak lebih sekedar fenomena acak yang terus menerus berubah, aliran kesadaran yang kacau, dan kita hampir mustahil menemukan kepastian dari keacakan tersebut. Baca, Terry Eagleton, Teori Sastra Sebuah Pegantar Komprehensif, Jalasutra, Yogjakarta & Bandung, 2006, hlm 77

[6] Ibid, hlm 77

[7] Periksa, Novel The Alchemist, hlm 18-19

[8] Untuk memahami keutuhan kesadaran dan tubuh yang disebutnya “tubuh-subyek” itu, Merleau-Ponty harus mengeksplisitkan penghayatan manusia yang berada pada taraf prareflektif, yakni sebelum didefinisikan oleh filsafat dan ilmu pengetahuan modern,  dalam hal ini, sebagai alat analisis, fenomenologi memiliki kemungkinan yang luas untuk mengungkit strujtur-struktur penghayatan yang belum dirumuskan melalui refleksi ilmu-ilmu. Dimana fenomenologi merupakan metode yang berusaha melukiskan apa yang tampak secara langsung bagi kesadaran, yaitu fenomena.

[9] Ibid, hlm 40

[10] Baca, F Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Kanisius, Yogyakarta, 2007, hlm 5

Pembelajaran sastra berbasis masalah – problem based learning pada pembelajaran puisi

Pendahuluan

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. Model pembelajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.  Suatu model tertentu memiliki sintaks pembelajaran tertentu yang menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa (Jatmiko, 2004). Sintaks dari berbagai model pembelajaran mempunyai komponen-komponen yang sama, tetapi juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang harus dipahami oleh guru, jika model-model pembelajaran tersebut ingin dilaksanakan dengan efektif dan efesien.

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran (Joyce & Weil, 1980 dalam Santyasa 2004). Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian, model pembelajaran juga merupakan strategi pembelajaran, yang berperan sebagai fasilitas belajar untuk mencapai tujuan belajar. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda, dimana memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada suasana kelas. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran sangat perlu memperhatikan kondisi siswa, lingkungan belajar, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Beberapa model pembelajaran tersebut diantaranya model pembelajaran langsung (direct instruction / DI), pembelajaran kooperatif (cooperative learning / CL), dan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/BPL).

  1. Rumusan Masalah

Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Kuliah Pengkajian Puisi ?

  1. Tujuan

Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran berbasis pada mata kuliah Pengkajian Puisi (utamanya pada topic bahasa figuratif)

  1. Kajian Teoritis Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan salah satu model pembelajaran untuk mengaitkan konten dengan konteks. Yang dimaksud dengan konten adalah isi materi pelajaran, sedangkan konteks adalah situasi dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari. Konteks memberikan makna pada isi, yang semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermaknalah isinya bagi mereka. Jadi sebagaian besar tugas guru menyediakan konteks. Semakin mampu para siswa mengaitkan pelajaran-pelajaran akademis mereka dengan konteks ini, semakain banyak makna yang akan mereka dapatkan dari pelajaran tersebut.(Johnson, 2002). Model pembelajaran ini, dikenal juga dengan nama lain, seperti project based teaching, experience based education, dan anchored instruction (Ibrahim dan Nur, 2004 dalam Suma, 2004), problem based instruction (Jatmiko, 2004), serta authentic learning (Nurhadi, 2005: 109). Pembelajaran berbasis masalah membantu siswa untuk belajar isi akademik dan keterampilan memecahkan masalah dengan melibatkan siswa kepada situasi masalah dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan demikian, Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi. Proses berpikir merupakan seperangkat operasi mental, yang meliputi: pembentukan konsep, pembentukan prinsip, pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian. Proses-proses tersebut pada umumnya saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Proses-proses pembentukan konsep, pembentukan prinsip, dan pemahaman merupakan proses-proses pengkonstruksian pengetahuan. Proses-proses pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian merupakan aplikasi konsep, prinsip, dan pemahaman (Santyasa, 2004). Pendekatan pemecahan masalah merupakan suatu strategi atau pendekatan yang dirancang untuk membantu proses pemecahan masalah sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada pola pemecahan masalah yakni mulai dari analisis, rencana, pemecahan, dan penilaian yang melekat pada setiap tahap

Ada 4 (empat) ciri, Problem Based Learning, yaitu 1) pengajuan pertanyaan (masalah), dimana masalah berpusat pada pertanyaan yang bermakna untuk siswa; 2) terintegrasi dengan disiplin ilmu lain, dalam hal ini masalah yang diselidiki dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang mata pelajaran; 3) penyelidikan otentik, dimana siswa menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen, membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan; dan 4) menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya (Nurhadi, 2005: 110). Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan guru secara optimal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian, sehingga Problem Based Learning dapat berlangsung dengan efektif dan efesien.

Peran guru dalam Problem Based Learning adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, serta memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Problem Based Learning tidak dapat dilaksanakan jika guru tidak mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Perilaku guru dalam Problem Based Learning terlihat dari sintaks pembelajaran yang dilaksanakannya.

  1. Langkah-langkah Pembelajaran

Terdapat 5 (lima) tahapan utama pada Problem Based Learning, yang dimulai dari guru memperkenalkan siswa dengan suatu masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa (Suma, 2004), seperti pada tabel berikut:

TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 1

Orientasi siswa pada masalah

Guru  menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Guru mendiskusikan rubrik asesmen yang akan digunakan dalam menilai kegiatan/ hasil karya siswa
Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

  1. 5. Pengkajian Puisi

Puisi sebagai salah satu karya sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. (Pradopo, 2005) Dapat pula dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam puisi. Begitu juga puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis  dan selalu di baca orang.

Meskipun demikian, orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepnuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bemakna dan bernilai estetis.

Dalam proses pembelajaran berbasis masalah pengkajian puisi pada tulisan ini penulis mencoba menekankan pada pengkajian puisi pada tataran bahasa figuratif yang terkandung pada setiap puisi, antara lain; Metafora, Hiperbola, personifikasi, Eufimisme, klise, Irony, Sarkasme, Satire, Paradok, dan simile.

  1. 6. Rancangan Program Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Puisi berbasis masalah ini, diterapkan untuk Mahasiswa semester 4 pada Jurusan Pendidkan Bahasa Inggis. Materi pokok pada mata kuliah Poetry adalah mengkaji pusi. Dalam tulisan ini secara khusus terfokus pada analisis bahasa figurative yang ada pada puisi

Perencanaan

Sebelum pembelajaran puisi berbasis masalah dilaksanakan, maka terlebih dahulu, dibuat perencanaan, yang langkah-langkahnya, meliputi 1) memilih dan mengkaji materi pokok atau bahan ajar, pada mata kuliah ini topik yang akan di berikan adalah “bahasa figurative”, 2) mencari dan memilih masalah yang aktual dan faktual, serta relevan dengan bahan kajian dari berbagai sumber, seperti surat kabar, majalah, artikel, atau internet, 3) mempersiapkan satuan acara perkuliahan (SAP) dan lembar kerja mahasiswa yang berorientasi masalah kontekstual, 3) mempersiapkan dan mengkaji penerapan evaluasi yang terdiri dari pretest dan tes akhir pembelajaran, dan 4) mempersiapkan dan memfasilitasi pembentukan kelompok belajar.

Penyusunan Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam pembelajaran bahasa figuratif dalam sebuah puisi  berbasis masalah, meliputi tes, artikel yang berkaitan dengan masalah dikaji, dan lembar kerja siswa berorientasi masalah kontekstual yang aktual dan relevan. Artikel diterapkan dalam pembelajaran di dalam kelas dalam rangka mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam pemecahan masalah. Sedangkan lembar kerja mahasiswa merupakan homework yang diharapkan dapat dikerjakan secara berkelompok. Tes yang digunakan berupa pretest untuk menggali pengetahuan awal siswa dan posttest untuk mengetahui hasil belajar siswa. Tes yang digunakan berbentuk uraian terbuka sehingga dapat menggali kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran bahasa figurative puisi  berbasis masalah, dilakukan dengan secara konsisten dan konsekuen menerapkan sintaks pembelajaran berbasis masalah. Sintaks pembelajaran Puisi berbasis masalah, terdiri dari lima tahap, yaitu 1) Orientasi siswa pada masalah, 2) Mengorganisasi siswa untuk belajar, 3) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Berkaitan dengan topik bahasa figuratif , maka akan dilakukan dengan 2 kali tatap muka. Uraian kegiatan setiap tatap adalah, sebagai berikut:

Tatap Muka I (2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit)

Kegiatan pembelajaran kimia berbasis masalah untuk materi pokok bahasa figuratif  pada tatap muka I, sebagai berikut:

TAHAP PBL TINGKAH LAKU GURU/SISWA
Tahap 1

Orientasi siswa pada masalah

(30 menit)

-    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dengan menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan  hasil belajar

-    Melaksanakan pretest untuk mengetahui pengetahuan awal siswa terhadap bahan kajian yang akan dibahas

-    Menjelaskan logistic yang dibutuhkan, seperti pembentukan kelompok belajar dan tugas dari masing-masing kelompok, serta mengarahkan siswa untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing

-    Dosen mendistribusikan puisi berjudul The Road Not Taken

Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

(60 menit)

-    Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

-    Guru mengarahkan siswa untuk melakukan kajian teori yang relevan dengan masalah

-    Siswa diarahkan juga untuk mencari nara sumber lainnya, baik dari siswa atau guru yang relevan

-    Guru mengarahkan siswa untuk membuat laporan hasil diskusi dan menyempurnakannya di rumah dengan kelompoknya masing-masing

Kegiatan pembelajaran Bahasa Figuratif puisi berbasis masalah pada tatap muka I ditutup dengan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya (tatap muka II). Untuk itu, diinformasikan kepada siswa dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dengan menyiapkan sumber belajar dan saran pendukung lainnya.

Puisi yang di berikan pada mahasiswa adalah pusi yang sekiranya memunculkan banyak penafsiran dan bisa saja sesuai dengan realita yang ada pada kehidupan kita sehari-hari, seperti The Road Not Taken karya Robert Frost.

The Road Not Taken

Two roads diverged in yellow wood,

And sorry I could not travel both

and be one, long I stood

and look down one as far as I could

to where it bent in the undergrowth

Then took the other, as just as fair,

and having perhaps the better claim,

because it was grassy and wanted wear.

Though as forthat passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black,

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should over come back.

I shall be telling this a sign

Somewhere ages and ages ence;

Two roads diverged in a wood, and I-

I took the one les travelled by,

And that has made all the difference.

(http://agutie.homestead.com/files/roadnot_1.html)

Dengan mencermati puisi di atas, lakukan hal-hal, sebagai berikut!

1)      Kumpulkanlah informasi, dengan menerapkan table berikut:

Apa yang diketahui Apa yang ingin diketahui Bagaimana cara mengetahui

Bentuk-bentuk bahasa figuratif  apa saja yang anda temukan dalam puisi diatas

2)      Menganalisis makna dari puisi tersebut

3)      Temukan suatu masalah yang sekiranya mirip dengan apa yang anda temukan dalam puisi tersebut di kehidupan nyata!

Tatap Muka II (2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit)

Kegiatan pembelajaran bahasa figurative puisi berbasis masalah pada tatap muka II, sebagai berikut:

TAHAP PBL TINGKAH LAKU Dosen/Mahasiswa
Tahap 1

Orientasi mahasiswa pada masalah

(10 menit)

-    Dosen  menjelaskan tujuan pembelajaran dan memberikan komentar terhadap pembelajaran sebelumnya;

-    Memberikan arahan terhadap strategi pembelajaran sehingga pembelajaran efektif, efesien, dan bermakna;

-    Dosen memberikan penegasan terhadap analisis puisi The road Not Taken dengan kehidupan nyata (penegasan masalah).

Tahap 2

Mengorganisasi mahasiswa untuk belajar

(50 menit)

-    Dosen mengarahkan mahasiswa untuk berkumpul dalam kelompoknya, kemudian membimbing mahasiswa melakukan kajian masalah dan diskusi kelompok;

-    Mahasiswa diarahkan untuk disiplin dengan tugasnya masing-masing agar tugas dapat diselesaiakan efektif dan efesien;

-    Dosen membimbing dan memotivasi mahasiswa dalam mencari bahasa igurative.

-    Dosen membimbing mahasiswa dalam menemukan fenomena yang mungkin terjadi pada kehidupan nyata terkait dengan puisi tersebut

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

(30 menit)

-    Dosen memberikan bimbingan kepada masing-masing kelompok dalam menganalisis puisi

-    mahasiswa menyusun analisis puisi yang disertai dengan contoh masalah yang nyata terjadi di kehidupan sehari-hari dalam bentuk laporan dan diarahkan agar mencakup latar belakang masalah, perumusan masalah, kajian pusaka, dan metode analisis;

-    Dosen memberikan informasi, agar laporan tersebut dapat dituntaskan di rumah dengan kelompoknya masing-masing. Dan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.

Kegiatan pembelajaran Puisi berbasis masalah pada tatap muka II ditutup dengan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya (tatap muka III), yang meliputi presentasi hasil analisis.

Observasi, Evaluasi, dan Refleksi

Selama pembelajaran berlangsung, guru melakukan observasi terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan dan melakukan perekaman terhadap proses belajar mengajar yang berlangsung.

Berdasarkan observasi dan evaluasi tersebut, maka dilakukan refleksi untuk melihat seberapa besar keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan model pembelajaran yang dirancang.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.