ANALISIS NOVEL THE ALCHEMIST KARYA PAULO COELHO (KAJIAN FILSAFAT SASTRA DENGAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI) Oleh : Abd. Ghofur

Abstrak:

Tulisan ini mencoba menguak fenomena- fenomena yang terdapat pada novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sebuah novel yang menggambarkan seorang tokoh  bernama Santiago yang mencoba mengikuti kata hatinya untuk membuktikan mimpi yang selalu mengganggu tidurnya. Dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan fenomelologi ala Edmund Husserl, seorang filsuf dari Jerman. Dalam artikel ini penulis menemukan bahwa faktor-faktor fenomenologis mempengaruhi Santiago dalam mengambil keputusan dan bertindak. Yang selanjutnya penulis berkesimpulan bahwa Paulo Coelho adalah seorang penulis novel yang mampu mengetengahkan cerita menarik yang sarat dengan falsasah kehidupan

Keywords :

Fenomenologi, Novel, The Alchemist

Pendahuluan

Istilah fenomenologi sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang menjadi persoalan; apakah hanya sebatas istilah yang sudah lumrah dipakai atau istilah yang bertujuan memperindah bahan pembicaraan saja. Atau pun hanya sebatas pengertian empiris (pengalaman indera-indera kita). Menurut hemat penulis, sudah seyogyanyalah jika kita berbicara mengenai fenomenologi, pasti tidak lepas dari suatu terminologi “what is it?”(Apa itu?). Terdorong dari kemauan untuk memahami secara lebih mendalam tentang apa itu fenomenologi. Pertanyaan inilah yang selalu “terngiang-ngiang” dalam benak penulis, sehingga mengantarkan kepada suatu pengertian yang mendalam mengenai konsep Fenomenologi Edmund Husserl.

Tulisan ini difokuskan pada analisis novel dengan pendekatan Fenomenologi Menurut Edmund Husserl[1]. Sebab ia tokoh pertama selaku pendiri aliran ini. Ia mempengaruhi filsafat abad XX secara mendalam sampai pada penemuan akan analisa struktur intensi dari tindakan-tindakan mental dan sebagaimana struktur ini terarah pada obyek real dan ideal. Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.

Secara material penulisan artikel  ini memiliki tujuan yang mendasar, yaitu sebagai pembuka cakrawala pengetahuan filsafat pada umumnya dan fenomenologi pada khususnya, mengingat pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang memerlukan energi yang cukup untuk mempelajarinya, dalam hal ini  penulis hanya memfokuskan pada  novel The Alchemist karya Paulo Coelho.

Artikel ini mencoba menguak fenomena-fenomena yang ada pada novel The Alchemist, sejauh mana fenomena tersebut mempengaruhi cerita serta pembaca  novel tersebut.

Fenomenologi

Fenomen atau fenomenon memiliki berbagai arti, yakni: gejala, semu atau lawan bendanya sendiri (penampakan). Dalam filsafat fenomenologi ketiga arti fenomen tersebut di atas tidak digunakan sama sekali.[2] Menurut para pengikut fenomeologi suatu fenomen tidak perlu harus dapat diamati dengan indera, sebab fenomen dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani, tanpa melewati indera. Juga fenomen tidak perlu suatu peristiwa. Untuk sementara dapat dikatakan, bahwa menurut para pengikut  filsafat fenomenologi, fenomen adalah “apa yang menampakkan diri dalam dirinya sendiri”, apa yang menampakkan diri seperti apa adanya, apa yang jelas di hadapan kita. Istilah fenomenologi pernah dipakai juga oleh I. Kant[3] dan G.W.F. Hegel[4], akan tetapi filsfat fenomenologi yang akan kita bicarakan ini memakai istilah tersebut dalam arti yang khas, yaitu sebagai suatu metode berpikir tertentu secara khas.

Fenomenologi Husserl menentang habis-habisan tradisi pemikiran yang telah dikembangkan sejak Descartes hingga Hegel. Jika selama itu, pengetahuan dikembangkan lewat konstruksi spekulatif dalam akal budi, maka bagi Huserl, pengetahuan yang sesungguhnya adalah kehadiran data dalam kesadaran akal budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori.

Fenomenologi Husserl menekankan pentingnya suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikan seperti penampilannya. Fenomena yang dimaksud oleh Huserl adalah kehadiran data dalam kesadaran, atau hadirnya sesuatu tertentu dengan cara tertentu dalam kesadaran kita. Fenomena dapat berupa hasil rekaan atau sesuatu yang nyata, gagasan maupun kenyataan. Pendapat Huserl tentang fenomena bukan berarti dia berpihak kepada idealisme atau realisme, juga bukan mensintesiskan keduanya. Fenomenologi Husserl justru bersifat pra-teoritik. Fenomenologi justru menempati posisi sebelum ada pembedaan antara idealisme dan realism.

Husserl, seperti filsuf pendahulunya Rene Descartes, memulai perburuannya mencari kepastian dengan menolak terlebih dahulu apa yang disebutnya sikap yang alami, kepercayaan kepada akal sehat kebanyakan orang bahwa objek ada secara lepas dari diri kita di dunia luar, dan bahwa informasi yang kita miliki tentang mereka secara umum dapat diandalkan. Sikap seperti ini hanya akan menerima pengetahuan tentang kebenaran tanpa mempertanyakannya, sementara justru disitulah masalahnya. Jadi tentang apakah kita bisa merasa jelas dan yakin? Meskipun kita tidak dapat meyakini eksistensi dari benda-benda, menurut argument Husserl, ynag dapat kita sadari adalah keyakinan dari cara mereka langsung muncul dalam kesadaran kita, apakah hal sebenarnya yang sedang kita alami ini ilusi atau bukan.

Disini dapat kita pahami bahwa fenomena Husserl ini adalah sebuah sistem esensi universal, karena fenomenologi membedakan setiap objek dalam imajinasi sampai ia menemukan apa yang tidak dapat dibedakannya lagi .

Dalam hal ini yang ditampilkan dalam pengetahuan fenomenologis bukan hanya, misalnya, pengalaman, cemburu atau warna merah, melainkan tipe atau esensi universal dari objek-objek ini, kecemburuan atau kemarahan sebagaimana adanya.

Fenomena dalam Novel The Alchemist

Penulis memilih Novel The Alchemist disebabkan bahasa yang digunakan lebih familiar, serta alur cerita yang lebih mudah untuk diikuti. Dalam hal ini penulis mencoba untuk  menunjukkan fenomena yang terdapat  pada novel tersebut, dan selanjutnya penulis berusaha menganalisanya dengan menggunakan pendekatan fenomenologis ala Edmund Russerl.

Fenomena yang muncul pada salah satu ceita pada novel tersebut adalah bahwa Santiago dalam tidurnya terganggu oleh mimpi yang mengusik tidurnya. Pada cerita tersebut dikisahkan….

Malam masih gelap ketika dia terbangun. Dia menengadah, dan melihat bintang-bintang melalui atap yang sudah setengah hancur itu.

Aku ingin tidur lagi sebentar, pikirnya. Malam itu mimpi yang sama kembali dialaminya, seperti minggu lalu, dan kali ini pun dia terjaga sebelum mimpi  itu berakhir. Hlm 8

Mimpi yang dialami Santiago menjadi titik tolak baginya untuk melangkah, mengikuti kata hatinya, dimana menurutnya mimpi sebagai bahasa dunia. Tetapi selanjutnya berawal dari mimpi itu pulalah Santiago mengalami berbagai cobaan ataupun masalah.[5]

Mimpi yang dialami Santiago tersebut mungkin terdengar kelewat abstrak, dan memang begitu adanya. Tetapi justru hal tersebut membuat kebimbangan dalam diri Santiago. Penulis  meminjam bahasanya Tery Eagleton mimpi yang menjadi fenomenologis tersebut justru persis berseberangan dengan abstraksi: dalam hal ini ia kembali pada hal-hal yang konkrit, landasan yang kukuh, seperti yang tersirat dalam slogan fenomenologis, yakni ‘kembali ke hal-hal itu sendiri.[6] Hal iti ditunjukkan dengan keputusan yang diambil Santiago dengan mendatangi seorang perempuan Gipsy untuk meramal atau mengartikan arti mimpinya.[7] Apa yang dia dapatkan justru sesuatu yang meragukan, tidak adanya kepuasan bagi Santiago dari apa yang telah disampaikan oleh sang Gipsy  tersebut.

Selanjutnya dibutuhkan kesadaran manusia itu sendiri (Santiago) untuk menentukan jalan yang akan dia pilih, dimana kesadaran manusia yang kita pahami bukan hanya sebagai pengalaman empiris yang hanya dimiliki orang-orang tertentu saja, tetapi sebagai ‘struktur mendalam’ dari pikiran itu sendiri[8]. Dengan demikian fenomenologi berusaha memahami kenyataan sebagaimana adanya. Kenyataan itu merupakan kenyataan yang belum ditafsirkan oleh ilmu-ilmu positif dan filsafat.

Selanjutnya pada cerita yang lain dikisahkan Santiago bertemu dengan Raja Salem yang bernama Melkysedek, disitu diceritakan bahwa Santiago kembali terpengaruh dengan keinginan untuk membuktikan apa yang dialami  pada mimpi-mimpi malamnya. Dan raja tersebut memberikan dua buah batu sebagai alat bantu manakala Santiago ingin membuat keputusan[9].

Dalam hal ini Al Qur’an surat Yusuf ayat 67 menyebutkan :

67. …dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.

Gejala yang muncul adalah bahwa disini tingkat kepercayaan seseorang mulai diuji, dalam hal ini sejauh mana tingkat kesadaran seorang manusia diajak untuk mempercayai batu yang notabene merupakan benda mati yang tidak dapat bicara ataupun memberikan keputusan secara akal dan nalar yang pasti. Meskipun dalam Pandangan Imanuel Kant dia menyatakan terdapat sesuatu hal yang memungkinkannya untuk menarik demarkasi antara dunia fenomenal yang berisi hal-hal yang dapat diketahui dan dunia numenal yang memuat hal-hal yang tak dapat diketahui  yang berada diluar wilayah yang melampaui dunia fenomenal atau dunia keseharian itu[10]. Seperti halnya Plato, Kant disini juga meminjam  “mata Allah” untuk keluar dari konteks ruang dan waktu, bahwa semua yang ada dan terjadi karena takdir, dan perjalanan hidup seseorang semuanya sudah termaktub. Tentang taqdir juga disebutkan dalam Al Qur’an

17. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

Seperti hanlya Santiago menggunakan istilah termaktub dalam novelnya, yang berarti bahwa semua yang terjadi pada semesta ini karena kehendak-Nya. Wallahu a’lam bi as shawab.

Klimaks

Dua fenomena yang coba diangkat oleh penulis, menunjukkan bahwa hal tersebut sangat berpengaruh pada jalan cerita yang coba di munculkan oleh Paulo Coelho, terlepas apakah fenomena tersebut sengaja dimunculkan ataukah hanya mengalir mengikuti ide cerita yang terlebih dahulu ada. Namun demikian penulis yakin bahwa fenomena yang terdapat pada novel tersebut diangkat berdasarkan hasil imaginasi seorang penulis yang genius, sehingga  mampu memberikan banyak interpretasi yang berbeda-beda bagi pembaca.


[1] Edmund Husserl lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat; mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia. Periksa, Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 114

[2] Baca, Sudarsono, 2001, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta, hlm 340

[3] Immanuel Kant, filsuf Jerman abad XVIII, melakukan pendekatan kembali terhadap masalah diatas setelah memperhatikan kritik-kritik yang dilancarkan oleh Hurne terhadap sudut pandang yang bersifat empiris dan yang bersifat rasional. Baca, Louis Kattsoff, 2004, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogyakarta, hlm. 137

[4] Hegel (1770-1831) ialah puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant; walaupun ia sering mengkritik Kant, sistem filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pengaruhnya, kendati kini surut, sangat besar, tidak hanya atau terutama di Jerman. Pada akhir abad kesembilan belas, para filsuf akademik terkemuka, baik di Amerika maupun Britania raya, sangat bercorak Hegelian. Diluar filsafat murni, banyak teolog protestan mengadopsi doktrin-doktrinnya, dan filsafatnya tentang sejarah mempengaruhi teori poiltik secara mendalam.  Periksa, Bertrand Russel, Sejarah Filsafat barat kaitannya dengan kondisi sosio-politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hlm 951.

[5] Masalah yang timbul ini mungkin karena yang kita temukan, saat kita mencoba menelaah isi benak kita, tak lebih sekedar fenomena acak yang terus menerus berubah, aliran kesadaran yang kacau, dan kita hampir mustahil menemukan kepastian dari keacakan tersebut. Baca, Terry Eagleton, Teori Sastra Sebuah Pegantar Komprehensif, Jalasutra, Yogjakarta & Bandung, 2006, hlm 77

[6] Ibid, hlm 77

[7] Periksa, Novel The Alchemist, hlm 18-19

[8] Untuk memahami keutuhan kesadaran dan tubuh yang disebutnya “tubuh-subyek” itu, Merleau-Ponty harus mengeksplisitkan penghayatan manusia yang berada pada taraf prareflektif, yakni sebelum didefinisikan oleh filsafat dan ilmu pengetahuan modern,  dalam hal ini, sebagai alat analisis, fenomenologi memiliki kemungkinan yang luas untuk mengungkit strujtur-struktur penghayatan yang belum dirumuskan melalui refleksi ilmu-ilmu. Dimana fenomenologi merupakan metode yang berusaha melukiskan apa yang tampak secara langsung bagi kesadaran, yaitu fenomena.

[9] Ibid, hlm 40

[10] Baca, F Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Kanisius, Yogyakarta, 2007, hlm 5

Pembelajaran sastra berbasis masalah – problem based learning pada pembelajaran puisi

Pendahuluan

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. Model pembelajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.  Suatu model tertentu memiliki sintaks pembelajaran tertentu yang menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa (Jatmiko, 2004). Sintaks dari berbagai model pembelajaran mempunyai komponen-komponen yang sama, tetapi juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang harus dipahami oleh guru, jika model-model pembelajaran tersebut ingin dilaksanakan dengan efektif dan efesien.

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran (Joyce & Weil, 1980 dalam Santyasa 2004). Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian, model pembelajaran juga merupakan strategi pembelajaran, yang berperan sebagai fasilitas belajar untuk mencapai tujuan belajar. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda, dimana memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada suasana kelas. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran sangat perlu memperhatikan kondisi siswa, lingkungan belajar, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Beberapa model pembelajaran tersebut diantaranya model pembelajaran langsung (direct instruction / DI), pembelajaran kooperatif (cooperative learning / CL), dan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/BPL).

  1. Rumusan Masalah

Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Kuliah Pengkajian Puisi ?

  1. Tujuan

Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran berbasis pada mata kuliah Pengkajian Puisi (utamanya pada topic bahasa figuratif)

  1. Kajian Teoritis Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan salah satu model pembelajaran untuk mengaitkan konten dengan konteks. Yang dimaksud dengan konten adalah isi materi pelajaran, sedangkan konteks adalah situasi dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari. Konteks memberikan makna pada isi, yang semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermaknalah isinya bagi mereka. Jadi sebagaian besar tugas guru menyediakan konteks. Semakin mampu para siswa mengaitkan pelajaran-pelajaran akademis mereka dengan konteks ini, semakain banyak makna yang akan mereka dapatkan dari pelajaran tersebut.(Johnson, 2002). Model pembelajaran ini, dikenal juga dengan nama lain, seperti project based teaching, experience based education, dan anchored instruction (Ibrahim dan Nur, 2004 dalam Suma, 2004), problem based instruction (Jatmiko, 2004), serta authentic learning (Nurhadi, 2005: 109). Pembelajaran berbasis masalah membantu siswa untuk belajar isi akademik dan keterampilan memecahkan masalah dengan melibatkan siswa kepada situasi masalah dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan demikian, Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi. Proses berpikir merupakan seperangkat operasi mental, yang meliputi: pembentukan konsep, pembentukan prinsip, pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian. Proses-proses tersebut pada umumnya saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Proses-proses pembentukan konsep, pembentukan prinsip, dan pemahaman merupakan proses-proses pengkonstruksian pengetahuan. Proses-proses pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian merupakan aplikasi konsep, prinsip, dan pemahaman (Santyasa, 2004). Pendekatan pemecahan masalah merupakan suatu strategi atau pendekatan yang dirancang untuk membantu proses pemecahan masalah sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada pola pemecahan masalah yakni mulai dari analisis, rencana, pemecahan, dan penilaian yang melekat pada setiap tahap

Ada 4 (empat) ciri, Problem Based Learning, yaitu 1) pengajuan pertanyaan (masalah), dimana masalah berpusat pada pertanyaan yang bermakna untuk siswa; 2) terintegrasi dengan disiplin ilmu lain, dalam hal ini masalah yang diselidiki dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang mata pelajaran; 3) penyelidikan otentik, dimana siswa menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen, membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan; dan 4) menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya (Nurhadi, 2005: 110). Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan guru secara optimal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian, sehingga Problem Based Learning dapat berlangsung dengan efektif dan efesien.

Peran guru dalam Problem Based Learning adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, serta memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Problem Based Learning tidak dapat dilaksanakan jika guru tidak mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Perilaku guru dalam Problem Based Learning terlihat dari sintaks pembelajaran yang dilaksanakannya.

  1. Langkah-langkah Pembelajaran

Terdapat 5 (lima) tahapan utama pada Problem Based Learning, yang dimulai dari guru memperkenalkan siswa dengan suatu masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa (Suma, 2004), seperti pada tabel berikut:

TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 1

Orientasi siswa pada masalah

Guru  menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Guru mendiskusikan rubrik asesmen yang akan digunakan dalam menilai kegiatan/ hasil karya siswa
Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

  1. 5. Pengkajian Puisi

Puisi sebagai salah satu karya sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. (Pradopo, 2005) Dapat pula dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam puisi. Begitu juga puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis  dan selalu di baca orang.

Meskipun demikian, orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepnuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bemakna dan bernilai estetis.

Dalam proses pembelajaran berbasis masalah pengkajian puisi pada tulisan ini penulis mencoba menekankan pada pengkajian puisi pada tataran bahasa figuratif yang terkandung pada setiap puisi, antara lain; Metafora, Hiperbola, personifikasi, Eufimisme, klise, Irony, Sarkasme, Satire, Paradok, dan simile.

  1. 6. Rancangan Program Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Puisi berbasis masalah ini, diterapkan untuk Mahasiswa semester 4 pada Jurusan Pendidkan Bahasa Inggis. Materi pokok pada mata kuliah Poetry adalah mengkaji pusi. Dalam tulisan ini secara khusus terfokus pada analisis bahasa figurative yang ada pada puisi

Perencanaan

Sebelum pembelajaran puisi berbasis masalah dilaksanakan, maka terlebih dahulu, dibuat perencanaan, yang langkah-langkahnya, meliputi 1) memilih dan mengkaji materi pokok atau bahan ajar, pada mata kuliah ini topik yang akan di berikan adalah “bahasa figurative”, 2) mencari dan memilih masalah yang aktual dan faktual, serta relevan dengan bahan kajian dari berbagai sumber, seperti surat kabar, majalah, artikel, atau internet, 3) mempersiapkan satuan acara perkuliahan (SAP) dan lembar kerja mahasiswa yang berorientasi masalah kontekstual, 3) mempersiapkan dan mengkaji penerapan evaluasi yang terdiri dari pretest dan tes akhir pembelajaran, dan 4) mempersiapkan dan memfasilitasi pembentukan kelompok belajar.

Penyusunan Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam pembelajaran bahasa figuratif dalam sebuah puisi  berbasis masalah, meliputi tes, artikel yang berkaitan dengan masalah dikaji, dan lembar kerja siswa berorientasi masalah kontekstual yang aktual dan relevan. Artikel diterapkan dalam pembelajaran di dalam kelas dalam rangka mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam pemecahan masalah. Sedangkan lembar kerja mahasiswa merupakan homework yang diharapkan dapat dikerjakan secara berkelompok. Tes yang digunakan berupa pretest untuk menggali pengetahuan awal siswa dan posttest untuk mengetahui hasil belajar siswa. Tes yang digunakan berbentuk uraian terbuka sehingga dapat menggali kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran bahasa figurative puisi  berbasis masalah, dilakukan dengan secara konsisten dan konsekuen menerapkan sintaks pembelajaran berbasis masalah. Sintaks pembelajaran Puisi berbasis masalah, terdiri dari lima tahap, yaitu 1) Orientasi siswa pada masalah, 2) Mengorganisasi siswa untuk belajar, 3) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Berkaitan dengan topik bahasa figuratif , maka akan dilakukan dengan 2 kali tatap muka. Uraian kegiatan setiap tatap adalah, sebagai berikut:

Tatap Muka I (2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit)

Kegiatan pembelajaran kimia berbasis masalah untuk materi pokok bahasa figuratif  pada tatap muka I, sebagai berikut:

TAHAP PBL TINGKAH LAKU GURU/SISWA
Tahap 1

Orientasi siswa pada masalah

(30 menit)

–    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dengan menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan  hasil belajar

–    Melaksanakan pretest untuk mengetahui pengetahuan awal siswa terhadap bahan kajian yang akan dibahas

–    Menjelaskan logistic yang dibutuhkan, seperti pembentukan kelompok belajar dan tugas dari masing-masing kelompok, serta mengarahkan siswa untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing

–    Dosen mendistribusikan puisi berjudul The Road Not Taken

Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

(60 menit)

–    Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

–    Guru mengarahkan siswa untuk melakukan kajian teori yang relevan dengan masalah

–    Siswa diarahkan juga untuk mencari nara sumber lainnya, baik dari siswa atau guru yang relevan

–    Guru mengarahkan siswa untuk membuat laporan hasil diskusi dan menyempurnakannya di rumah dengan kelompoknya masing-masing

Kegiatan pembelajaran Bahasa Figuratif puisi berbasis masalah pada tatap muka I ditutup dengan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya (tatap muka II). Untuk itu, diinformasikan kepada siswa dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dengan menyiapkan sumber belajar dan saran pendukung lainnya.

Puisi yang di berikan pada mahasiswa adalah pusi yang sekiranya memunculkan banyak penafsiran dan bisa saja sesuai dengan realita yang ada pada kehidupan kita sehari-hari, seperti The Road Not Taken karya Robert Frost.

The Road Not Taken

Two roads diverged in yellow wood,

And sorry I could not travel both

and be one, long I stood

and look down one as far as I could

to where it bent in the undergrowth

Then took the other, as just as fair,

and having perhaps the better claim,

because it was grassy and wanted wear.

Though as forthat passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black,

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should over come back.

I shall be telling this a sign

Somewhere ages and ages ence;

Two roads diverged in a wood, and I-

I took the one les travelled by,

And that has made all the difference.

(http://agutie.homestead.com/files/roadnot_1.html)

Dengan mencermati puisi di atas, lakukan hal-hal, sebagai berikut!

1)      Kumpulkanlah informasi, dengan menerapkan table berikut:

Apa yang diketahui Apa yang ingin diketahui Bagaimana cara mengetahui

Bentuk-bentuk bahasa figuratif  apa saja yang anda temukan dalam puisi diatas

2)      Menganalisis makna dari puisi tersebut

3)      Temukan suatu masalah yang sekiranya mirip dengan apa yang anda temukan dalam puisi tersebut di kehidupan nyata!

Tatap Muka II (2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit)

Kegiatan pembelajaran bahasa figurative puisi berbasis masalah pada tatap muka II, sebagai berikut:

TAHAP PBL TINGKAH LAKU Dosen/Mahasiswa
Tahap 1

Orientasi mahasiswa pada masalah

(10 menit)

–    Dosen  menjelaskan tujuan pembelajaran dan memberikan komentar terhadap pembelajaran sebelumnya;

–    Memberikan arahan terhadap strategi pembelajaran sehingga pembelajaran efektif, efesien, dan bermakna;

–    Dosen memberikan penegasan terhadap analisis puisi The road Not Taken dengan kehidupan nyata (penegasan masalah).

Tahap 2

Mengorganisasi mahasiswa untuk belajar

(50 menit)

–    Dosen mengarahkan mahasiswa untuk berkumpul dalam kelompoknya, kemudian membimbing mahasiswa melakukan kajian masalah dan diskusi kelompok;

–    Mahasiswa diarahkan untuk disiplin dengan tugasnya masing-masing agar tugas dapat diselesaiakan efektif dan efesien;

–    Dosen membimbing dan memotivasi mahasiswa dalam mencari bahasa igurative.

–    Dosen membimbing mahasiswa dalam menemukan fenomena yang mungkin terjadi pada kehidupan nyata terkait dengan puisi tersebut

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

(30 menit)

–    Dosen memberikan bimbingan kepada masing-masing kelompok dalam menganalisis puisi

–    mahasiswa menyusun analisis puisi yang disertai dengan contoh masalah yang nyata terjadi di kehidupan sehari-hari dalam bentuk laporan dan diarahkan agar mencakup latar belakang masalah, perumusan masalah, kajian pusaka, dan metode analisis;

–    Dosen memberikan informasi, agar laporan tersebut dapat dituntaskan di rumah dengan kelompoknya masing-masing. Dan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.

Kegiatan pembelajaran Puisi berbasis masalah pada tatap muka II ditutup dengan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya (tatap muka III), yang meliputi presentasi hasil analisis.

Observasi, Evaluasi, dan Refleksi

Selama pembelajaran berlangsung, guru melakukan observasi terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan dan melakukan perekaman terhadap proses belajar mengajar yang berlangsung.

Berdasarkan observasi dan evaluasi tersebut, maka dilakukan refleksi untuk melihat seberapa besar keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan model pembelajaran yang dirancang.