Pembelajaran sastra berbasis masalah – problem based learning pada pembelajaran puisi

Pendahuluan

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pengajaran yang luas dan menyeluruh. Model pembelajaran dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.  Suatu model tertentu memiliki sintaks pembelajaran tertentu yang menggambarkan keseluruhan urutan alur langkah yang pada umumnya diikuti oleh serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks pembelajaran menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan oleh guru atau siswa (Jatmiko, 2004). Sintaks dari berbagai model pembelajaran mempunyai komponen-komponen yang sama, tetapi juga mempunyai perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang harus dipahami oleh guru, jika model-model pembelajaran tersebut ingin dilaksanakan dengan efektif dan efesien.

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran (Joyce & Weil, 1980 dalam Santyasa 2004). Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dengan demikian, model pembelajaran juga merupakan strategi pembelajaran, yang berperan sebagai fasilitas belajar untuk mencapai tujuan belajar. Setiap model pembelajaran memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda, dimana memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada suasana kelas. Oleh karena itu pemilihan model pembelajaran sangat perlu memperhatikan kondisi siswa, lingkungan belajar, dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Beberapa model pembelajaran tersebut diantaranya model pembelajaran langsung (direct instruction / DI), pembelajaran kooperatif (cooperative learning / CL), dan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/BPL).

  1. Rumusan Masalah

Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Berbasis Masalah pada Mata Kuliah Pengkajian Puisi ?

  1. Tujuan

Penulisan artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan model pembelajaran berbasis pada mata kuliah Pengkajian Puisi (utamanya pada topic bahasa figuratif)

  1. Kajian Teoritis Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) merupakan salah satu model pembelajaran untuk mengaitkan konten dengan konteks. Yang dimaksud dengan konten adalah isi materi pelajaran, sedangkan konteks adalah situasi dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari. Konteks memberikan makna pada isi, yang semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermaknalah isinya bagi mereka. Jadi sebagaian besar tugas guru menyediakan konteks. Semakin mampu para siswa mengaitkan pelajaran-pelajaran akademis mereka dengan konteks ini, semakain banyak makna yang akan mereka dapatkan dari pelajaran tersebut.(Johnson, 2002). Model pembelajaran ini, dikenal juga dengan nama lain, seperti project based teaching, experience based education, dan anchored instruction (Ibrahim dan Nur, 2004 dalam Suma, 2004), problem based instruction (Jatmiko, 2004), serta authentic learning (Nurhadi, 2005: 109). Pembelajaran berbasis masalah membantu siswa untuk belajar isi akademik dan keterampilan memecahkan masalah dengan melibatkan siswa kepada situasi masalah dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan demikian, Problem Based Learning adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk mengajarkan proses-proses berpikir tingkat tinggi. Proses berpikir merupakan seperangkat operasi mental, yang meliputi: pembentukan konsep, pembentukan prinsip, pemahaman, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian. Proses-proses tersebut pada umumnya saling tumpang tindih satu dengan yang lainnya. Proses-proses pembentukan konsep, pembentukan prinsip, dan pemahaman merupakan proses-proses pengkonstruksian pengetahuan. Proses-proses pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian merupakan aplikasi konsep, prinsip, dan pemahaman (Santyasa, 2004). Pendekatan pemecahan masalah merupakan suatu strategi atau pendekatan yang dirancang untuk membantu proses pemecahan masalah sesuai dengan langkah-langkah yang terdapat pada pola pemecahan masalah yakni mulai dari analisis, rencana, pemecahan, dan penilaian yang melekat pada setiap tahap

Ada 4 (empat) ciri, Problem Based Learning, yaitu 1) pengajuan pertanyaan (masalah), dimana masalah berpusat pada pertanyaan yang bermakna untuk siswa; 2) terintegrasi dengan disiplin ilmu lain, dalam hal ini masalah yang diselidiki dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang mata pelajaran; 3) penyelidikan otentik, dimana siswa menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen, membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan; dan 4) menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya (Nurhadi, 2005: 110). Oleh karena itu, diperlukan keterlibatan guru secara optimal mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian, sehingga Problem Based Learning dapat berlangsung dengan efektif dan efesien.

Peran guru dalam Problem Based Learning adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan, serta memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Problem Based Learning tidak dapat dilaksanakan jika guru tidak mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Perilaku guru dalam Problem Based Learning terlihat dari sintaks pembelajaran yang dilaksanakannya.

  1. Langkah-langkah Pembelajaran

Terdapat 5 (lima) tahapan utama pada Problem Based Learning, yang dimulai dari guru memperkenalkan siswa dengan suatu masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa (Suma, 2004), seperti pada tabel berikut:

TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 1

Orientasi siswa pada masalah

Guru  menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Guru mendiskusikan rubrik asesmen yang akan digunakan dalam menilai kegiatan/ hasil karya siswa
Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
TAHAP TINGKAH LAKU GURU
Tahap 4

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
Tahap 5

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

  1. 5. Pengkajian Puisi

Puisi sebagai salah satu karya sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan. (Pradopo, 2005) Dapat pula dikaji jenis-jenis atau ragam-ragamnya, mengingat bahwa ada beragam puisi. Begitu juga puisi dapat dikaji dari sudut kesejarahannya, mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis  dan selalu di baca orang.

Meskipun demikian, orang tidak akan dapat memahami puisi secara sepnuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, yang mempunyai arti, bukan hanya sesuatu yang kosong tanpa makna. Oleh karena itu, sebelum pengkajian aspek-aspek yang lain, perlu lebih dahulu puisi dikaji sebagai sebuah struktur yang bemakna dan bernilai estetis.

Dalam proses pembelajaran berbasis masalah pengkajian puisi pada tulisan ini penulis mencoba menekankan pada pengkajian puisi pada tataran bahasa figuratif yang terkandung pada setiap puisi, antara lain; Metafora, Hiperbola, personifikasi, Eufimisme, klise, Irony, Sarkasme, Satire, Paradok, dan simile.

  1. 6. Rancangan Program Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran Puisi berbasis masalah ini, diterapkan untuk Mahasiswa semester 4 pada Jurusan Pendidkan Bahasa Inggis. Materi pokok pada mata kuliah Poetry adalah mengkaji pusi. Dalam tulisan ini secara khusus terfokus pada analisis bahasa figurative yang ada pada puisi

Perencanaan

Sebelum pembelajaran puisi berbasis masalah dilaksanakan, maka terlebih dahulu, dibuat perencanaan, yang langkah-langkahnya, meliputi 1) memilih dan mengkaji materi pokok atau bahan ajar, pada mata kuliah ini topik yang akan di berikan adalah “bahasa figurative”, 2) mencari dan memilih masalah yang aktual dan faktual, serta relevan dengan bahan kajian dari berbagai sumber, seperti surat kabar, majalah, artikel, atau internet, 3) mempersiapkan satuan acara perkuliahan (SAP) dan lembar kerja mahasiswa yang berorientasi masalah kontekstual, 3) mempersiapkan dan mengkaji penerapan evaluasi yang terdiri dari pretest dan tes akhir pembelajaran, dan 4) mempersiapkan dan memfasilitasi pembentukan kelompok belajar.

Penyusunan Instrumen

Instrumen yang digunakan dalam pembelajaran bahasa figuratif dalam sebuah puisi  berbasis masalah, meliputi tes, artikel yang berkaitan dengan masalah dikaji, dan lembar kerja siswa berorientasi masalah kontekstual yang aktual dan relevan. Artikel diterapkan dalam pembelajaran di dalam kelas dalam rangka mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam pemecahan masalah. Sedangkan lembar kerja mahasiswa merupakan homework yang diharapkan dapat dikerjakan secara berkelompok. Tes yang digunakan berupa pretest untuk menggali pengetahuan awal siswa dan posttest untuk mengetahui hasil belajar siswa. Tes yang digunakan berbentuk uraian terbuka sehingga dapat menggali kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran bahasa figurative puisi  berbasis masalah, dilakukan dengan secara konsisten dan konsekuen menerapkan sintaks pembelajaran berbasis masalah. Sintaks pembelajaran Puisi berbasis masalah, terdiri dari lima tahap, yaitu 1) Orientasi siswa pada masalah, 2) Mengorganisasi siswa untuk belajar, 3) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan 5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Berkaitan dengan topik bahasa figuratif , maka akan dilakukan dengan 2 kali tatap muka. Uraian kegiatan setiap tatap adalah, sebagai berikut:

Tatap Muka I (2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit)

Kegiatan pembelajaran kimia berbasis masalah untuk materi pokok bahasa figuratif  pada tatap muka I, sebagai berikut:

TAHAP PBL TINGKAH LAKU GURU/SISWA
Tahap 1

Orientasi siswa pada masalah

(30 menit)

–    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dengan menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan  hasil belajar

–    Melaksanakan pretest untuk mengetahui pengetahuan awal siswa terhadap bahan kajian yang akan dibahas

–    Menjelaskan logistic yang dibutuhkan, seperti pembentukan kelompok belajar dan tugas dari masing-masing kelompok, serta mengarahkan siswa untuk berkumpul dengan kelompoknya masing-masing

–    Dosen mendistribusikan puisi berjudul The Road Not Taken

Tahap 2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

(60 menit)

–    Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

–    Guru mengarahkan siswa untuk melakukan kajian teori yang relevan dengan masalah

–    Siswa diarahkan juga untuk mencari nara sumber lainnya, baik dari siswa atau guru yang relevan

–    Guru mengarahkan siswa untuk membuat laporan hasil diskusi dan menyempurnakannya di rumah dengan kelompoknya masing-masing

Kegiatan pembelajaran Bahasa Figuratif puisi berbasis masalah pada tatap muka I ditutup dengan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya (tatap muka II). Untuk itu, diinformasikan kepada siswa dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dengan menyiapkan sumber belajar dan saran pendukung lainnya.

Puisi yang di berikan pada mahasiswa adalah pusi yang sekiranya memunculkan banyak penafsiran dan bisa saja sesuai dengan realita yang ada pada kehidupan kita sehari-hari, seperti The Road Not Taken karya Robert Frost.

The Road Not Taken

Two roads diverged in yellow wood,

And sorry I could not travel both

and be one, long I stood

and look down one as far as I could

to where it bent in the undergrowth

Then took the other, as just as fair,

and having perhaps the better claim,

because it was grassy and wanted wear.

Though as forthat passing there

Had worn them really about the same,

And both that morning equally lay

In leaves no step had trodden black,

Oh, I kept the first for another day!

Yet knowing how way leads on to way

I doubted if I should over come back.

I shall be telling this a sign

Somewhere ages and ages ence;

Two roads diverged in a wood, and I-

I took the one les travelled by,

And that has made all the difference.

(http://agutie.homestead.com/files/roadnot_1.html)

Dengan mencermati puisi di atas, lakukan hal-hal, sebagai berikut!

1)      Kumpulkanlah informasi, dengan menerapkan table berikut:

Apa yang diketahui Apa yang ingin diketahui Bagaimana cara mengetahui

Bentuk-bentuk bahasa figuratif  apa saja yang anda temukan dalam puisi diatas

2)      Menganalisis makna dari puisi tersebut

3)      Temukan suatu masalah yang sekiranya mirip dengan apa yang anda temukan dalam puisi tersebut di kehidupan nyata!

Tatap Muka II (2 jam pelajaran atau 2 x 45 menit)

Kegiatan pembelajaran bahasa figurative puisi berbasis masalah pada tatap muka II, sebagai berikut:

TAHAP PBL TINGKAH LAKU Dosen/Mahasiswa
Tahap 1

Orientasi mahasiswa pada masalah

(10 menit)

–    Dosen  menjelaskan tujuan pembelajaran dan memberikan komentar terhadap pembelajaran sebelumnya;

–    Memberikan arahan terhadap strategi pembelajaran sehingga pembelajaran efektif, efesien, dan bermakna;

–    Dosen memberikan penegasan terhadap analisis puisi The road Not Taken dengan kehidupan nyata (penegasan masalah).

Tahap 2

Mengorganisasi mahasiswa untuk belajar

(50 menit)

–    Dosen mengarahkan mahasiswa untuk berkumpul dalam kelompoknya, kemudian membimbing mahasiswa melakukan kajian masalah dan diskusi kelompok;

–    Mahasiswa diarahkan untuk disiplin dengan tugasnya masing-masing agar tugas dapat diselesaiakan efektif dan efesien;

–    Dosen membimbing dan memotivasi mahasiswa dalam mencari bahasa igurative.

–    Dosen membimbing mahasiswa dalam menemukan fenomena yang mungkin terjadi pada kehidupan nyata terkait dengan puisi tersebut

Tahap 3

Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

(30 menit)

–    Dosen memberikan bimbingan kepada masing-masing kelompok dalam menganalisis puisi

–    mahasiswa menyusun analisis puisi yang disertai dengan contoh masalah yang nyata terjadi di kehidupan sehari-hari dalam bentuk laporan dan diarahkan agar mencakup latar belakang masalah, perumusan masalah, kajian pusaka, dan metode analisis;

–    Dosen memberikan informasi, agar laporan tersebut dapat dituntaskan di rumah dengan kelompoknya masing-masing. Dan dipresentasikan pada pertemuan berikutnya.

Kegiatan pembelajaran Puisi berbasis masalah pada tatap muka II ditutup dengan menyampaikan rencana kegiatan pada pertemuan berikutnya (tatap muka III), yang meliputi presentasi hasil analisis.

Observasi, Evaluasi, dan Refleksi

Selama pembelajaran berlangsung, guru melakukan observasi terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan dan melakukan perekaman terhadap proses belajar mengajar yang berlangsung.

Berdasarkan observasi dan evaluasi tersebut, maka dilakukan refleksi untuk melihat seberapa besar keberhasilan dan kegagalan dalam penerapan model pembelajaran yang dirancang.

1 Comment

  1. Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

    Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

    Metode dalam menalar

    Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

    induktif

    * Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum.
    * Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
    * Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

    Metode deduktif

    Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

    Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
    Bagian ini membutuhkan pengembangan

    Konsep dan simbol dalam penalaran

    Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.

    Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.

    Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

    Syarat-syarat kebenaran dalam penalaran

    Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.

    * Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.

    * Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

    JAWABAN TUGAS BAHASA INDONESIA TENTANG PENALARAN
    DARI
    NAMA :RISDIANA FIRMANINGSIH, A.Ma
    NIM : 05-15-09-000304
    KELAS : C


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s