ANALISIS NOVEL THE ALCHEMIST KARYA PAULO COELHO (KAJIAN FILSAFAT SASTRA DENGAN PENDEKATAN FENOMENOLOGI) Oleh : Abd. Ghofur

Abstrak:

Tulisan ini mencoba menguak fenomena- fenomena yang terdapat pada novel The Alchemist karya Paulo Coelho. Sebuah novel yang menggambarkan seorang tokoh  bernama Santiago yang mencoba mengikuti kata hatinya untuk membuktikan mimpi yang selalu mengganggu tidurnya. Dalam tulisan ini penulis menggunakan pendekatan fenomelologi ala Edmund Husserl, seorang filsuf dari Jerman. Dalam artikel ini penulis menemukan bahwa faktor-faktor fenomenologis mempengaruhi Santiago dalam mengambil keputusan dan bertindak. Yang selanjutnya penulis berkesimpulan bahwa Paulo Coelho adalah seorang penulis novel yang mampu mengetengahkan cerita menarik yang sarat dengan falsasah kehidupan

Keywords :

Fenomenologi, Novel, The Alchemist

Pendahuluan

Istilah fenomenologi sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun yang menjadi persoalan; apakah hanya sebatas istilah yang sudah lumrah dipakai atau istilah yang bertujuan memperindah bahan pembicaraan saja. Atau pun hanya sebatas pengertian empiris (pengalaman indera-indera kita). Menurut hemat penulis, sudah seyogyanyalah jika kita berbicara mengenai fenomenologi, pasti tidak lepas dari suatu terminologi “what is it?”(Apa itu?). Terdorong dari kemauan untuk memahami secara lebih mendalam tentang apa itu fenomenologi. Pertanyaan inilah yang selalu “terngiang-ngiang” dalam benak penulis, sehingga mengantarkan kepada suatu pengertian yang mendalam mengenai konsep Fenomenologi Edmund Husserl.

Tulisan ini difokuskan pada analisis novel dengan pendekatan Fenomenologi Menurut Edmund Husserl[1]. Sebab ia tokoh pertama selaku pendiri aliran ini. Ia mempengaruhi filsafat abad XX secara mendalam sampai pada penemuan akan analisa struktur intensi dari tindakan-tindakan mental dan sebagaimana struktur ini terarah pada obyek real dan ideal. Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi.

Secara material penulisan artikel  ini memiliki tujuan yang mendasar, yaitu sebagai pembuka cakrawala pengetahuan filsafat pada umumnya dan fenomenologi pada khususnya, mengingat pengetahuan filsafat merupakan pengetahuan yang memerlukan energi yang cukup untuk mempelajarinya, dalam hal ini  penulis hanya memfokuskan pada  novel The Alchemist karya Paulo Coelho.

Artikel ini mencoba menguak fenomena-fenomena yang ada pada novel The Alchemist, sejauh mana fenomena tersebut mempengaruhi cerita serta pembaca  novel tersebut.

Fenomenologi

Fenomen atau fenomenon memiliki berbagai arti, yakni: gejala, semu atau lawan bendanya sendiri (penampakan). Dalam filsafat fenomenologi ketiga arti fenomen tersebut di atas tidak digunakan sama sekali.[2] Menurut para pengikut fenomeologi suatu fenomen tidak perlu harus dapat diamati dengan indera, sebab fenomen dapat juga dilihat atau ditilik secara rohani, tanpa melewati indera. Juga fenomen tidak perlu suatu peristiwa. Untuk sementara dapat dikatakan, bahwa menurut para pengikut  filsafat fenomenologi, fenomen adalah “apa yang menampakkan diri dalam dirinya sendiri”, apa yang menampakkan diri seperti apa adanya, apa yang jelas di hadapan kita. Istilah fenomenologi pernah dipakai juga oleh I. Kant[3] dan G.W.F. Hegel[4], akan tetapi filsfat fenomenologi yang akan kita bicarakan ini memakai istilah tersebut dalam arti yang khas, yaitu sebagai suatu metode berpikir tertentu secara khas.

Fenomenologi Husserl menentang habis-habisan tradisi pemikiran yang telah dikembangkan sejak Descartes hingga Hegel. Jika selama itu, pengetahuan dikembangkan lewat konstruksi spekulatif dalam akal budi, maka bagi Huserl, pengetahuan yang sesungguhnya adalah kehadiran data dalam kesadaran akal budi, bukan rekayasa pikiran untuk membentuk teori.

Fenomenologi Husserl menekankan pentingnya suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikan seperti penampilannya. Fenomena yang dimaksud oleh Huserl adalah kehadiran data dalam kesadaran, atau hadirnya sesuatu tertentu dengan cara tertentu dalam kesadaran kita. Fenomena dapat berupa hasil rekaan atau sesuatu yang nyata, gagasan maupun kenyataan. Pendapat Huserl tentang fenomena bukan berarti dia berpihak kepada idealisme atau realisme, juga bukan mensintesiskan keduanya. Fenomenologi Husserl justru bersifat pra-teoritik. Fenomenologi justru menempati posisi sebelum ada pembedaan antara idealisme dan realism.

Husserl, seperti filsuf pendahulunya Rene Descartes, memulai perburuannya mencari kepastian dengan menolak terlebih dahulu apa yang disebutnya sikap yang alami, kepercayaan kepada akal sehat kebanyakan orang bahwa objek ada secara lepas dari diri kita di dunia luar, dan bahwa informasi yang kita miliki tentang mereka secara umum dapat diandalkan. Sikap seperti ini hanya akan menerima pengetahuan tentang kebenaran tanpa mempertanyakannya, sementara justru disitulah masalahnya. Jadi tentang apakah kita bisa merasa jelas dan yakin? Meskipun kita tidak dapat meyakini eksistensi dari benda-benda, menurut argument Husserl, ynag dapat kita sadari adalah keyakinan dari cara mereka langsung muncul dalam kesadaran kita, apakah hal sebenarnya yang sedang kita alami ini ilusi atau bukan.

Disini dapat kita pahami bahwa fenomena Husserl ini adalah sebuah sistem esensi universal, karena fenomenologi membedakan setiap objek dalam imajinasi sampai ia menemukan apa yang tidak dapat dibedakannya lagi .

Dalam hal ini yang ditampilkan dalam pengetahuan fenomenologis bukan hanya, misalnya, pengalaman, cemburu atau warna merah, melainkan tipe atau esensi universal dari objek-objek ini, kecemburuan atau kemarahan sebagaimana adanya.

Fenomena dalam Novel The Alchemist

Penulis memilih Novel The Alchemist disebabkan bahasa yang digunakan lebih familiar, serta alur cerita yang lebih mudah untuk diikuti. Dalam hal ini penulis mencoba untuk  menunjukkan fenomena yang terdapat  pada novel tersebut, dan selanjutnya penulis berusaha menganalisanya dengan menggunakan pendekatan fenomenologis ala Edmund Russerl.

Fenomena yang muncul pada salah satu ceita pada novel tersebut adalah bahwa Santiago dalam tidurnya terganggu oleh mimpi yang mengusik tidurnya. Pada cerita tersebut dikisahkan….

Malam masih gelap ketika dia terbangun. Dia menengadah, dan melihat bintang-bintang melalui atap yang sudah setengah hancur itu.

Aku ingin tidur lagi sebentar, pikirnya. Malam itu mimpi yang sama kembali dialaminya, seperti minggu lalu, dan kali ini pun dia terjaga sebelum mimpi  itu berakhir. Hlm 8

Mimpi yang dialami Santiago menjadi titik tolak baginya untuk melangkah, mengikuti kata hatinya, dimana menurutnya mimpi sebagai bahasa dunia. Tetapi selanjutnya berawal dari mimpi itu pulalah Santiago mengalami berbagai cobaan ataupun masalah.[5]

Mimpi yang dialami Santiago tersebut mungkin terdengar kelewat abstrak, dan memang begitu adanya. Tetapi justru hal tersebut membuat kebimbangan dalam diri Santiago. Penulis  meminjam bahasanya Tery Eagleton mimpi yang menjadi fenomenologis tersebut justru persis berseberangan dengan abstraksi: dalam hal ini ia kembali pada hal-hal yang konkrit, landasan yang kukuh, seperti yang tersirat dalam slogan fenomenologis, yakni ‘kembali ke hal-hal itu sendiri.[6] Hal iti ditunjukkan dengan keputusan yang diambil Santiago dengan mendatangi seorang perempuan Gipsy untuk meramal atau mengartikan arti mimpinya.[7] Apa yang dia dapatkan justru sesuatu yang meragukan, tidak adanya kepuasan bagi Santiago dari apa yang telah disampaikan oleh sang Gipsy  tersebut.

Selanjutnya dibutuhkan kesadaran manusia itu sendiri (Santiago) untuk menentukan jalan yang akan dia pilih, dimana kesadaran manusia yang kita pahami bukan hanya sebagai pengalaman empiris yang hanya dimiliki orang-orang tertentu saja, tetapi sebagai ‘struktur mendalam’ dari pikiran itu sendiri[8]. Dengan demikian fenomenologi berusaha memahami kenyataan sebagaimana adanya. Kenyataan itu merupakan kenyataan yang belum ditafsirkan oleh ilmu-ilmu positif dan filsafat.

Selanjutnya pada cerita yang lain dikisahkan Santiago bertemu dengan Raja Salem yang bernama Melkysedek, disitu diceritakan bahwa Santiago kembali terpengaruh dengan keinginan untuk membuktikan apa yang dialami  pada mimpi-mimpi malamnya. Dan raja tersebut memberikan dua buah batu sebagai alat bantu manakala Santiago ingin membuat keputusan[9].

Dalam hal ini Al Qur’an surat Yusuf ayat 67 menyebutkan :

67. …dan Ya’qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; Namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri”.

Gejala yang muncul adalah bahwa disini tingkat kepercayaan seseorang mulai diuji, dalam hal ini sejauh mana tingkat kesadaran seorang manusia diajak untuk mempercayai batu yang notabene merupakan benda mati yang tidak dapat bicara ataupun memberikan keputusan secara akal dan nalar yang pasti. Meskipun dalam Pandangan Imanuel Kant dia menyatakan terdapat sesuatu hal yang memungkinkannya untuk menarik demarkasi antara dunia fenomenal yang berisi hal-hal yang dapat diketahui dan dunia numenal yang memuat hal-hal yang tak dapat diketahui  yang berada diluar wilayah yang melampaui dunia fenomenal atau dunia keseharian itu[10]. Seperti halnya Plato, Kant disini juga meminjam  “mata Allah” untuk keluar dari konteks ruang dan waktu, bahwa semua yang ada dan terjadi karena takdir, dan perjalanan hidup seseorang semuanya sudah termaktub. Tentang taqdir juga disebutkan dalam Al Qur’an

17. Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

Seperti hanlya Santiago menggunakan istilah termaktub dalam novelnya, yang berarti bahwa semua yang terjadi pada semesta ini karena kehendak-Nya. Wallahu a’lam bi as shawab.

Klimaks

Dua fenomena yang coba diangkat oleh penulis, menunjukkan bahwa hal tersebut sangat berpengaruh pada jalan cerita yang coba di munculkan oleh Paulo Coelho, terlepas apakah fenomena tersebut sengaja dimunculkan ataukah hanya mengalir mengikuti ide cerita yang terlebih dahulu ada. Namun demikian penulis yakin bahwa fenomena yang terdapat pada novel tersebut diangkat berdasarkan hasil imaginasi seorang penulis yang genius, sehingga  mampu memberikan banyak interpretasi yang berbeda-beda bagi pembaca.


[1] Edmund Husserl lahir di Prestejov (dahulu Prossnitz) di Czechoslovakia 8 April 1859 dari keluarga yahudi. Di universitas ia belajar ilmu alam, ilmu falak, matematika, dan filsafat; mula-mula di Leipzig kemudian juga di Berlin dan Wina. Di Wina ia tertarik pada filsafat dari Brentano. Dia mengajar di Universitas Halle dari tahun 1886-1901, kemudian di Gottingen sampai tahun 1916 dan akhirnya di Freiburg. Ia juga sebagai dosen tamu di Berlin, London, Paris, dan Amsterdam, dan Prahara. Husserl terkenal dengan metode yang diciptakan olehnya yakni metode “Fenomenologi” yang oleh murid-muridnya diperkembangkan lebih lanjut. Husserl meninggal tahun 1938 di Freiburg. Untuk menyelamatkan warisan intelektualnya dari kaum Nazi, semua buku dan catatannya dibawa ke Universitas Leuven di Belgia. Periksa, Harry Hamersma, Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern, jakarta: Gramedia, 1983, hlm. 114

[2] Baca, Sudarsono, 2001, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta, hlm 340

[3] Immanuel Kant, filsuf Jerman abad XVIII, melakukan pendekatan kembali terhadap masalah diatas setelah memperhatikan kritik-kritik yang dilancarkan oleh Hurne terhadap sudut pandang yang bersifat empiris dan yang bersifat rasional. Baca, Louis Kattsoff, 2004, Pengantar Filsafat, Tiara Wacana Yogyakarta, hlm. 137

[4] Hegel (1770-1831) ialah puncak gerakan filsafat Jerman yang berawal dari Kant; walaupun ia sering mengkritik Kant, sistem filsafatnya tidak akan pernah muncul kalau tidak ada Kant. Pengaruhnya, kendati kini surut, sangat besar, tidak hanya atau terutama di Jerman. Pada akhir abad kesembilan belas, para filsuf akademik terkemuka, baik di Amerika maupun Britania raya, sangat bercorak Hegelian. Diluar filsafat murni, banyak teolog protestan mengadopsi doktrin-doktrinnya, dan filsafatnya tentang sejarah mempengaruhi teori poiltik secara mendalam.  Periksa, Bertrand Russel, Sejarah Filsafat barat kaitannya dengan kondisi sosio-politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004, hlm 951.

[5] Masalah yang timbul ini mungkin karena yang kita temukan, saat kita mencoba menelaah isi benak kita, tak lebih sekedar fenomena acak yang terus menerus berubah, aliran kesadaran yang kacau, dan kita hampir mustahil menemukan kepastian dari keacakan tersebut. Baca, Terry Eagleton, Teori Sastra Sebuah Pegantar Komprehensif, Jalasutra, Yogjakarta & Bandung, 2006, hlm 77

[6] Ibid, hlm 77

[7] Periksa, Novel The Alchemist, hlm 18-19

[8] Untuk memahami keutuhan kesadaran dan tubuh yang disebutnya “tubuh-subyek” itu, Merleau-Ponty harus mengeksplisitkan penghayatan manusia yang berada pada taraf prareflektif, yakni sebelum didefinisikan oleh filsafat dan ilmu pengetahuan modern,  dalam hal ini, sebagai alat analisis, fenomenologi memiliki kemungkinan yang luas untuk mengungkit strujtur-struktur penghayatan yang belum dirumuskan melalui refleksi ilmu-ilmu. Dimana fenomenologi merupakan metode yang berusaha melukiskan apa yang tampak secara langsung bagi kesadaran, yaitu fenomena.

[9] Ibid, hlm 40

[10] Baca, F Budi Hardiman, Filsafat Fragmentaris, Kanisius, Yogyakarta, 2007, hlm 5

3 Comments

  1. artukel di tas bagus sekali………
    untuk dijadikan tumpuan dalam mempelajajari ilmu filsafat/tradisi-tradisi pemikiran para novelis dan juga orang-orang yang suka novel.

  2. Wah, ternyata ketemu jua sample penelititan sastra dengan pendekatan fenomenologi sastra dan filsafat…. Terimakasih pak


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s