JEJAK-JEJAK BAHASA MANUSIA DAN PERKEMBANGAN TRADISIONAL GRAMMAR

JEJAK-JEJAK BAHASA MANUSIA DAN PERKEMBANGAN TRADISIONAL GRAMMAR

Abd. Ghofur

Abstrak

This paper tried to reveal the development of traditional grammar, which began by tracking the origin of human language, viewed from various perspectives, religion, philosophy, and linguistic controversy that occurred from the time of Socrates, Plato, Aristotle, to Dionysius Thrax. Descriptive analysis used in this paper given by the difficulty of tracking the sources of successful record which is written in times BC.  And this paper ends with a mouth that up to now the question of what language was first used on this earth has not answered

Keywords:

Bahasa manusia, traditional grammar

 

Pendahuluan

Minat manusia terhadap bahasa bukanlah sesuatu yang baru. Dari catatan sejarah ada bukti bahwa sejak jaman purba manusia sudah tertarik untuk menyelidiki seluk beluk bahasa.[1]  Penyelidikan tentang bahasa oleh sekelompok manusia sebagai bangsa itu yang dicatat secara rapi, ada pula yang tidak dicatat, diceritakan dari mulut ke mulut, dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Bangsa yang membuat dokumentasi yang teratur dan rapi sehingga masih bisa dilacak sampai jaman sekarang  ialah bangsa Yunani. Hampir semua cabang ilmu sebagai hasil kehidupan intelektual manusia: filsafat, moral, politik, estetika, etika, astronomi, matematika, geometri, dan linguistic, di dokumentasikan secara teratur dan rapi oleh bangsa Yunani. Oleh karena itu, minat kita untuk mempelajari bahasa, mulai dari catatan-catatan para sarjana Yunani.

 

Jaman Yunani Kuno

Sebagian besar terminologi yang di pergunakan oleh para ahli bahasa dalam mempelajari bahasa-bahasa modern dewasa ini diambil dari istilah-istilah yang dikemukakan oleh para sarjana Yunani, ketika para ahli filsafat dan ahli retorika bahasa dari bangsa itu memperkenalkannya dalam usahanya mempelajari bahasa. Catatan yang paling awal tentang minat bangsa Yunani dalam dunia bahasa biasanya dikaitkan dengan kaum Sofia dalam abad ke- 5 sebelum Masehi. Dalam bahasa Yunani, sophos berarti bijaksana, Sophia artinya kebijaksanaan, dengan demikian, sophists atau kaum sofia ialah sekelompok manusia yang mempelajari hal ikhwal tentang pemikiran-pemikiran orang-orang bijaksana.

Pada dasarnya, pemikiran kaum Sofia terhadap bahasa itu bersifat praktis, sebab mereka sebenarnya adalah guru retorika, yaitu seni debat terbuka. Kaum Sophia itu mempelajari pidato-pidato yang diucapkan oleh para ahli pidato dan mencatat unsur-unsur kebahasaan yang ada pada pidato-pidato tersebut. Kemudian mereka menasehati murid-muridnya (yang biasanya terdiri dari dari calon-calon ahli filsafat, retorika, dan politisi) untuk menggunakan kata-kata atau kalimat yang dipergunakan oleh para ahli pidato tadi. Jadi model berbahasa yang baik adalah berbahasa seperti yang disajikan oleh para ahli pidato pada jaman itu.

Terkait dengan sumbangan ilmiah bangsa Yunani dalam dunia linguistik yaitu kejelian mereka dalam mengamati pertumbuhan bahasa sebagai hasil kontak antara bangsa  Yunani dengan bangsa luar karena adanya kegiatan perdagangan, diplomasi politik, dan pendudukan daerah-daerah jajahan. Kontak manusia itu membawa perubahan arti sesuatu ujaran. Oleh karena itu, bahasa yang tadinya satu dan sama untuk seluruh negeri, berkembang menjadi berbeda di beberapa bagian negeri. Pertumbuhan bahasa diberbagai bagian negeri itu membentuk dialek-dialek. Studi Herodotus.

Dalam mempelajari berbagai dialek bahasa Yunani itu, Herodotus mengamati kata-kata asing yang masuk ke dalam bahasa Yunani. Kemudian timbul masalah : Dialek mana yang dipakai sebagai bahasa kaum cerdik cendikiawan ? Dalam hal ini Herodotus menyarankan para kaum cerdik pandai untuk mempergunakan dialek yang dipakai oleh sarjana-sarjana Homerik wyang sudah menguasai betul karya tulis Homer dalam sanjak-sanjaknya, Iliad dan Odyssey.

Ilmuwan Yunani lainnya, yakni Plato yang sangat terkenal itu juga membenarkan hasil pengamatan Herodotus, bahwa pada jamannya sudah banyak kata-kata asing yang masuk ke dalam bahasa Yunani. Pendapat Plato itu dinyatakan dalam dialog Cratylus. Disamping pengamatannya terhadap masuknya kata-kata asing ke dalam bahasa Yunani, Plato memberi sumbangan pemikiran yang tidak kecil dalam studi tentang kebahasaan.

Tradisional Grammar

Istilah tradisional dalam linguistik sering dipertentangkan dengan istilah struktural, sehingga dalam pendidikan formal terdapat istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa structural. Kedua jenis tata bahasa ini banyak dibicarakan orang sebagai dua hal yang bertentangan, sebagai akibat dari pendekatan keduanya tidak sama terhadap hakikat bahasa. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantic; sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam bahasa tertentu. Dalam merumuskan kata kerja,  misalnya, tata bahasa tradisional mengatakan kata kerja adalah kata yang  menyatakan tindakan atau kejadian; sedangkan tata bahasa struktural menyatakan kata kerja adalah kata yang dapat berdistribusi dengan frase “dengan….”.[2] Plato dianggap sebagai orang pertama yang mempelajari potensi gramatika. Ia membagi kalimat kedalam dua bagian besar, yaitu onoma yang merupakan komponen nominal, dan rhema, yang merupakan komponen verbal. Plato memberi definisi kalimat sebagai unit pikiran terkecil dan sebagai ungkapan verbal yang merupakan ide yang lengkap. Di samping itu, Plato juga merupakan orang pertama yang memperkenalkan studi tentang fonologi, sistem ujaran yang dirangkaikan dengan makna untuk menciptakan sesuatu bahasa.

Dalam studi tentang fonologi itu Plato membuat sejumlah klasifikasi fonem segmental yang berlaku dalam  bahasa Yunani. Ia mengelompokkan fonem-fonem ke dalam bunyi vocal dan konsonan, kemudian ia juga mengelompokkan bunyi konsonan itu ke dalam kontinum dan stop yang tidak dapat diujarkan tanpa bunyi vocal yang menyertainya. Plato juga jeli dalam mengamati perubahan yang ada dalam kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama tetapi bisa lain artinya karena adanya perubahan tekanan dan intonasi, misalnya, kata Dii philos, yang artinya ‘Sahabat Tuhan’, dan kata Diphilos, yaitu nama diri.

Sebenarnya, para ahli ilmu kebahasaan berhutang budi kepada Plato dalam hal menggunakan isltilah gramatika. Plato lah orang pertama yang memperkenalkan kata gramatika itu. Kata ini diambil dari kata grammata, yang berarti ‘dapat membaca dan menulis’. Kata grammatikos dalam bahasa Yunani ialah ‘orang yang dapat memahami penggunaan huruf-huruf dalam bahasa.

Sumbangan Plato dalam dunia linguistik itu kemudian disempurnakan oleh pengikutnya yang paling terkenal, yaitu Aristotel, yang sangat luar biasa luas jangkauan intelektualnya itu. Karya tulisnya meliputi : etika, politik, logika, fisika, biologi, sejarah alam jagad raya, dan linguistik.

Aristoteles memberikan definisi kalimat sebagai suatu pernyataan yang lengkap mengenai sesuatu. Disamping itu, menurut dia, kata ialah suatu unit linguistik, suatu komponen kalimat, yang memiliki arti sendiri, tatapi tidak dapat lagi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil yang mengandung makna tersendiri. Selanjutnya ia menyatakan bahwa kata-kata itu merupakan symbol perasaan dan perwujudan jiwa.

Aristoteles mempelajari karya Plato dalam dunia linguistik dan menambah ide-ide yang telah diperkenalkan oleh Plato. Dia mempertahankan ide Plato tentang pembagian komponen kalimat dalam kategori onoma dan rhema. Di samping kedua pembagian itu, ia menambah komponen yang ketiga, yaitu syndensmoi, suatu kelompok kata yang kemudian dikenal sebagai konjungsi, preposisi, artikel, dan kata ganti (pronoun). Dia pulalah yang memperkenalkan istilah  dan kategori gender dalam onoma. Aristoteles juga menetapkan bahwa ciri kata kerja yang penting itu ialah tense, dengan mengacu pada perbedaan waktu. Dia menghubungkan bahasa dengan sastra dan menyarankan bahwa bahasa hendaknya dipelajari dalam hubungannya dengan logika. Dan selanjutnya dikombinasikan dengan phrase dan clause.[3]

Setelah masa sarjana-sarjana Sofia itu, muncullah kaum Stoic, yaitu suatu aliran filsafat Yunani yang tertarik mempelajari fenomena kebahasaan. Dibawah kaum Stoic yang didirikan oleh Zeno (300 SM) itu, linguistic mempunyai tempat yang penting dalam kontek filsafat secara menyeluruh. Kaum Stoic membedakan bentuk  dari makna, membedakan signifier yang memberi lambang dari signified, yaitu makna yang diberi lambang tersebut.

Kaum Stoic juga mempelajari secara tersendiri aspek-aspek linguistik seperti fonetik, gramatika, dan etimologi. Dalam aspek fonetik kaum Stoic membuat kemajuan dengan mempelajari bunyi ujaran sebagai bagian dari studi tentang bahasa. Kaum Stoic   memperkenalkan adanya perbedaan antara tiga aspek huruf tertulis, yaitu :

Nilai fonetik    / a /

Betuk tulis       α

Nama yang diberikan alpha ® alfa

Dengan teliti, kaum Stoic mempelajari struktur suku kata bahasa Yunani, dan membuat tiga pembedaan antara urut-urutan bunyi :

1)      Yang terjadi sebagai bagian yang mengandung makna dalam sesuatu wacana

2)      Yang bisa terjadi sesuai dengan kaidah-kaidah bunyi yang berlaku dalam sesuatu bahasa, tetapi tidak mengandung makna tertentu, dan

3)     Yang sama sekali tidak mungkin dibentuk dengan kandungan makna dalam bahasa.

Kaum Stoic mengembangkan sistem yang pernah diperkenalkan oleh Aristoteles dalam dua arah :

1)      Jumlah pengelompokan kata-kata ditambah, dan

2)      Definisi yang lebih tepat diperkenalkan pula. Umpamanya, onoma lebih jauh dibagi menjadi onoma yang dikhususkan untuk nama diri dan prosegoria, yaitu kata benda umum, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan common nouns. Sementara itu,  rhema dibagi menjadi rhemata ortha, yang dalam istilah gramatika dikenal sebagai kata kerja aktif transitif, hyptia yaitu bentuk kata kerja pasif, oudetera, biasanya diketahui sebagai kata kerja yang netral atau intransitive. Syndesmoi dibagi lagi menjadi syndesmoi sendiri, yaitu anggota-anggota yang dapat mengalami infleksi dan artha, yaitu anggota-anggota yang tidak akan mengalami infleksi.

Linguistik sejak jaman Yunani ditandai dengan adanya kontroversi-kontroversi. Kontroversi yang pertama ialah kontrovesi antara konsep physic atau nomos dan thesis. Physic dianut oleh mereka yang percaya bahwa kata dan benda itu mempunyai hubungan alamiah, dan karena itu, konsep semacam itu penting dan diperlukan. Untuk mendukung ide bahwa antara kata dan benda itu mempunyai hubungan yang erat, orang-orang yang menganut konsep physis itu menampilkan bukti-bukti yang berupa onomatopoeia, yaitu kata-kata yang mengandung arti sesuai dengan bunyi yang terkandung dalam makna kata-kata itu, seumpamanya, tokek untuk binatang yang berbunyi tokek…tokek….tokek, dan sebagainya. Simbolisme suara, seperti bunyi i untuk melambangkan sesuatu yang kecil mungil, juga dipakai sebagai salah satu argumen bahwa ada hubungan antara kata dan benda yang diwakili oleh kata itu oleh para penganut konsep physis.

Sebaliknya, orang-orang yang menganut konsep thesis percaya bahwa hubungan antara kata dan makna yang terkandung didalamnya itu adalah hubungan arbitrar, tidak di sengaja. Jadi tidak ada hubungan yang berkaitan diantara signifier dan signified.

Kontroversi linguistik yang kedua ditandai dengan adanya pertentangan konsep antara anomaly dan analogy. Kaum analogis percaya bahwa fenomena linguistik itu mengikuti prinsip-prinsip keteraturan, sedang kaum anomalis berpendapat bahwa prinsip-prinsip kebahasaan itu tidak teratur, dan mereka mengatakan bahwa keteraturan itu hanyalah sebagian dari ketidak teraturan.

Dalam dunia linguitik yang menyangkut kontroversi yang kedua ini, tampaknya Aristotel ada pada pihak analogy [tunduk pada kaidah], sedangkan kaum Stoic ada ada pihak anomaly. Sebagai akibat adanya kontroversi ini, ada dua pusat aliran linguistic :

1)      Satu berpusat di Alexandria, yang didominasi oleh para penganut analogy

2)      Yang lain berpusat di Pergamum, yang dikuasai oleh para anomalis

Salah seorang penganut Alexandrian bangsa Yunani yang patut dicatat adalah Dionysius Thrax yang merupakan bapak Grammatika Tradisional. Thrax menulis Techne Grammatika. Dia memberi definisi gramatika sebagai pengetahuan praktis tentang bahasa yang dipergunakan oleh para penyair dan penulis prosa, karena menurut dia, para penyair dan penulis prosa itu tahu benar menggunakan bahasa yang baik dan benar untuk memikat hati para pembacanya.

Menurut Thrax, grammatika harus memiliki enam bagian :

1)      Petunjuk cara-cara membaca yang tepat dengan mempergunakan prosodi yang tepat

2)      Penjelasan tentang ungkapan-ungkapan sastra yang dipakai dalam karya tulis penyair dan penulis prosa

3)     Catatan-catatan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan frasa-frasa yang dipergunakan untuk mengungkapkan isi pokok bahasan

4)     Penemuan etimologi kata-kata penting

5)     Uraian fenomena kebahasaan yang mengikuti keteraturan analogis

6)     Apresiasi terhadap karya sastra, yang menurutnya sebagai bagian yang paling terhormat dalam sesuatu gramatika

Thrax membagi kata-kata menjadi 8 jenis kata.  Pembagian ini tetap dipertahankan sampai abad pertengahan dan banyak mempengaruhi ahli-ahli ilmu bahasa di daratan Eropa sampai kini. Kedelapan  pembagian itu dilengkapi dengan definisi masing-masing jenis kata itu mencerminkan kesadaran Thrax terhadap aplikasi konsep-konsep yang sudah pernah diperkenalkan oleh Aristotel yang memperkuat kubu Alexandrian.

Delapan klasifikasi jenis kata versi Dionisius Thrax itu adalah :

(1)   Onoma, yaitu jenis kata yang dapat mengalamimi infleksi sesuai dengan kasus yang ada, yang menandai orang atau barang

(2)   Rhema atau kata kerja, yaitu jenis kata tanpa mengalami infleksi kasus, tetapi mengalami infleksi karena tense, manusia, bilangan, dan menandai aktifitas atau proses.

(3)  Methoche atau participle, yaitu jenis kata yang mengalami ciri-ciri sebagai kata kerja atau kata benda.

(4)  Arthron atau article, yaitu jenis kata yang mengalami infleksi atuk kasus dan menempati posisi sebelum atau sesudah onoma

(5)  Antonymia atau kata ganti, yaitu jenis kata yang menggantikan onoma, khususnya manusia

(6)  Prosthesis atau preposisi, yaitu jenis kata yang menenpati posisi awal kata-kata lain dalam suatu komposisi atau dalam sintaksis

(7)  Epirhema atau kata keterangan yaitu jenis kata yang tidak mengalami infleksi dalam perubahan-perubahan kata kerja atau sebagai tambahan kata kerja.

(8)  Syndesmos atau konjungsi, yaitu jenis kata yang mengikat wacana bersama dan yang mengisi kesenjangan interpretasinya

Dionysius Thrax juga meletakkan landasan deskripsi morfologis bahasa Yunani atas dasar pemikiran kaum Alexandrian. Kelebihannya ialah pandangan umum tentang linguistik lebih bersifat mentalis dan banyak dipengaruhi juga oleh konsep-konsep yang dikembangkan oleh kaum Stoic. Thrax secara tegas membedakan bentuk dari makna, schema, dari ennoia, dan memberikan struktur-gramatika kepada sisi makna.

Jaman Romawi

Dalam abad 3 – 2 sebelum Masehi, Roma merupakan bangsa yang kaya dan kuat dalam segala bidang : politik, ekonomi, dan kebudayaan. Pada tahun 46, Roma menaklukkan Yunani. Tampaknya sudah berlaku sejak jaman kuno bahwa bagsa yang menaklukkan bangsa lain itu juga memboyong tidak saja harta kekayaan dan wanita, tetapi juga para ilmuwan. Ilmuwan-ilmuwan Yunani yang di boyong bangsa Romawi itu membawa perubahan budaya dalam bangsa Roma. Dalam bidang Linguistik pun pemikiran-pemikiran Yunani juga dibawa ke Roma. Dengan demikian linguistik di Roma sebenarnya merupakan perkembangan dari yang ada di Yunani itu. Dua orang sarjana Roma yang terkemuka dalam bidang Linguistik ialah Varro dan Priscianus.

Varro menulis 25 buku mengenai bahasa Latin dengan judul De Lingua Latina, tetapi sayang, tinggal enam buku saja yang sampai sekarang ini bisa diselamatkan. Dia membagi studi tentang linguist tersebut menjadi tiga bidang, yaitu : etimologi, morfologi, dan sitaksis. Dalam bidang pembentukan kata-kata, Varro mempersatukan dua ide yang bertentangan , yaitu analogy dan anomaly, dengan cara menyajikan fenomena kebahasaan yang sesuai dengan dengan prinsip-prinsip keteraturan dan fenomena yang kebahasaan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip keteraturan yang terdapat dalam bahasa Latin. Secara masuk akal dia menyimpulkan bahwa kedua prinsip yang bertentangan itu harus di akui kebenarannya dan diterima dalam hal pembentukan kata yang berlaku dalam sesuatu bahasa. Salah satu observasi Varro yang sangat berpengaruh dalam bidang Linguistik ialah konsepnya tentang pembedaan antara perubahan derivasi dan perubahan infleksi, pembedaan yang belum pernah diperkenalkan dalam studi linguistic pada masa-masa sebelumnya.

Sarjana Roma yang lain yaitu Priscianu, yang mengajar gramatika Latin di Constatinople pada abad ke-5 itu menganggap bidang studi ini secara sistematik dan membuat deskripsi yang terinci mengenai bahasa yang dipakai dalam karya sastra Latin Kuno. Struktur ucapan dan suku kata dideskripsikan dengan member tanda huruf. Dia mendeskripsikan suku kata sebagai bagian terkecil dari artikulasi ujaran. Dari fonetik, Priscianus meningkat ke morfologi, dan member definisi kata (dictio)  dan kalimat (oratio) sama seperti yang telah diperkenalkan oleh Dionysius Thrax, yaitu kata didefinisikan sebagai unit terkecil dari kalimat, dan kalimat sebagai ungkapan pemikiran yang lengkap.

Setelah Priscianus meneliti 8 klasifikasi yang sudah diletakkan dasarnya oleh Thrax itu, dia membuat klasifikasi yang hampir sama, bedanya, ia meninggalkan artikel dan memperkenalkan istilah interjection atau yang dikenal dengan kata-kata seru.

(1)   Nomen atau kata benda

(2)   Verbum atau kata kerja

(3)  Participium atau participle

(4)  Pronomen  (pronoun)

(5)  Adverbium atau kata keterangan

(6)  Prepositio atau preosisi

(7)  Interiectio atau interjecsi

(8)  Coniunctio atau conjungsi

Jaman Pertengahan

Abad pertengahan ialah istilah yang dipergunakan untuk menandai periode dalam sejarah Eropa diantara jatuhnya Kekaisaran Romawi sebagai kekuasaan yang mampu membawa kebesaran pradaban dan administrasi, serangkaian peristiwa serta perubahan-perubahan kebudayaan yang dikenal sebagai jaman Renaissance, yang biasanya diterima sebagai pintu gerbang fase kehidupan modern.

Dalam abad 13, ada sekelompok sarjana filsafat yang dinamakan kaum Modistae. Kata modistae berasal dari kata modus, mode atau mood. Yang berarti cara bagaimana segala sesuatu itu bias ada. Kaum Modistae itu selalu terganggu oleh masalah filsafat yang selalu muncul dalam pikiran mereka. Kaum modistae membawa konsep filosofis itu ke dalam konsep bahasa. Hasilnya studi tentang bahasa dalam gramatika didasarkan pada logika. Mereka percaya bahwa bahasa itu sebagian besar mempunyai sifat universal, dan hanya sebagian kecil saja yang bersifat khusus.

Dalam sistem modistae, ada tiga modes yang diperkenalkan yaitu :

(1)   Moth essensi (modes of existence), ialah cara bagaimana barang sesuatu itu ada

(2)   Moth inteligendi (modes of perception) yaitu bagaimana melakukan persepsi terhadap sesuatu.

(3)  Modi significandi (modes of signifying) ialah lambang yang melambangkan objek.

Diantara ketiga modi diatas, bagi kaum modistae dan penganut-penganut cartesius, modi intelegendilah yang paling penting karena bahasa-bahasa itu menganut prinsip logika, dan bahasa itu tunduk pada aturan-aturan (rule governed0). Sebaliknya, bagi penganut Bloomfield, modi significandi lah yang penting, karena moth significandi itu berbeda dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain, dan itulah yang menyebabkan bahasa itu mempunyai sifat unik. Unik artinya mempunyai cirri khas yang spesifik yang tidak dimiliki oleh yang lain. Ciri khas  ini bias menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem yang lain. (Chaer, 2003:51)

 

 

 

Linguistik Komparatif

Sebagai hasil Renaisannce, Eropa berkembang dengan pesat dalam segala bidang. Penjelajahan daerah-daerah baru juga dilakukan. Dalam hal penjajahan daerah baru diseluruh bumi itu, prosedur yang biasa ditempuh adalah : pengiriman pasukan perang untuk membuka jalan kearah pendudukan wilayah dan kemudian, setalah daerah baru itu bisa dikuasai datanglah para pedagang untuk memanfaatkan sector ekonomi, dan kalau segala sesuatu sudah aman datanglah kaum misionari untuk menyebarkan agama Nasrani.

Dalam usaha menyebarkan ajaran agama, misionari diwajibkan memiliki kemampuan untuk membujuk warga pribumi, dengan sendirinya mereka harus menguasai bahasa penduduk asli. Tetapi, analisis yang mereka lakukan terhadap bahasa penduduk asli itu didasarkan pada acuan Gramatika tradisional yang berakar dari bahasa Yunani dan latin. Ternyata Gramatika tradisional model gramatika bahasa Yunani dan latin tersebut tidak semuanya dapat diterapkan ke dalam bahasa penduduk asli. Dibutuhkan banyak hal untuk mengkaji kesesuaian bahasa tersebut, yang selanjutnya berujung pada perkembangan Linguistik komparatif.

Penutup

Bahasa adalah satu-satunya milik manusia yang tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu, sebagai makhluk berbudaya dan bermasyarakat. Tak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa. Bahkan dalam mimpipun manusia menggunakan bahasa. Sehingga tidak salah kalau kita katakana  bahwa bahasa itu dinamis.

Bahasa itu tidak statis, dalam semua bahasa ujaran-ujaran baru selalu diciptakan. Seorang anak yang belajar bahasa memiliki sifat aktif dalam membentuk dan menghasilkan ujaran-ujaran yang belum pernah didengar sebelumnya. Yang selanjutnya membentuk pola-pola baru sesuai dengan kaidah-kaidah kebahasaan.

Demikian pula dalam konsep Tradisional Grammar, pola-pola tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan jaman yang disertai dengan kontroversi-kontroversi dari para penganutnya. Namun demikian sampai saat ini pertanyaan tentang kapan, dan  bahasa apa yang digunakan manusia pada awal terjadinya manusia belumlah terjawab.  Wa Allah a’lam bi al-sawãb.

 

Daftar Bacaan

Chaer, Abdul, 2003, Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta

Chaer, Abdul, 1990, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta

Clark, Virginia P., Paul A. Escholz, dan Alfred F rosa (editor), 1981, Language: Introductory Reading, New York: St Martin’s press

Duranti, Alessandro, 1997, Linguistic Antropology, United Kingdom: Cambridge University Press

Kolln, Martha., Robert Funk, 2009, Understanding English Grammar, United States : Pearson Education Inc

Pei, Mario, 1970, The Histoy Of Language,  Alih Bahasa Nugroho Notosusanto. Jakarta:Bratara

Ruhlen, Merrit, 1994, On the Origin of Language studies in Linguistic Taxonomy, Stanford California, Stanford University Press

Russel, Bertrand, 2004, Sejarah Filsafat Barat Kaitannya Dengan Kondisi Sosio Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang, Yogyakarta : Pustaka pelajar

 


[1] Ruhlen , 1994, On the Origin of Language studies in Linguistic Taxonomy, Stanford California, Stanford University Press, hlm 2

[2] Baca, Chaer, 2003, Linguistik Umum, Jakarta: Rineka Cipta , hlm 333

 

[3] Baca, Kolln, et al, 2009, Understanding English Grammar, United States : Pearson Education Inc, hlm 5

2 Comments

  1. naturally like your web-site however you need to take
    a look at the spelling on several of your posts.
    A number of them are rife with spelling problems and I in finding it
    very bothersome to inform the truth however I’ll certainly come back again.

    • thanks for your comment, later on i’m going to revise it


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.